Buku 3
Judul: Suamiku Menangis
Karya: Wahyuniati Al-Waly
Penyunting: Eddy S. Soepadmo, Kelik M. Nugroho
Penerbit: Adzikra, Biro Perjalanan Haji dan Umroh, Jakarta
Cetakan I, September 2004
Novel karya kolaborasi ini mengisahkan perjalanan hidup Muhammad Arifin Ilham, seorang ustad yang cukup populer di Indonesia. Bunda Wahyuniati, sebagai isteri sang ustad, menjadi tokoh utama dan pencerita kisah tersebut. Episode-episode cerita dipaparkan seperti dalam album-album foto, tahap demi tahap. Cara berceritanya memenuhi standar cerita pendek dan novel dengan penekanan pada dialog dan monolog.
Novel 171 halaman ini harus diakui merupakan pemfiksian dari penggalan fakta-fakta yang direkam si penulis. Dan karena obyek cerita adalah seorang ustad yang menurut si penulis berahlak baik, atau manusia dengan M besar, novel ini sepi dari konflik – unsur utama dalam novel pada umumnya. Novel dakwah ini tepat dibaca di tengah suasana Ramadan.
Berikut petikan dari novel:
Serambi Silaturahmi
Apa yang mempertemukan kita di serambi silaturahmi ini? Aku merasakan bahwa ada getar-getar ruhani yang mendesak-desak tangan kita untuk saling bergandengan. Aku mencium ada kepengapan yang menyergap kehidupan, sehingga kita membutuhkan ruang untuk berbagi udara segar. Jakarta memang seperti mesin industri yang melepuh. Dan kita terengah-engah mencari oksigen.
Ah, aku tidak ingin menambah kepengapan. Datang, bertandanglah di serambiku. Aku ingin menggandeng tanganmu untuk mendatangi ruang-ruang yang pernah dekat denganmu tetapi mungkin lama tak kau kunjungi. Aku ingin membawamu bertamasya dengan menyaksikan pemandangan indah, membahagiakan dan mengharukan yang kupotret dan kususun seperti layaknya album ini.
Putihnya Putih
Engkau bertanya di mana ujung kebaikan?
Aku menatap wajah televisi yang menggigil.
Aku teringat peristiwa menara kembar di New York
yang dihantam pesawat pada 11 September 2001.
Menara beton yang kokoh itu lantak seketika, api meledak
dan menggelegakkan hawa panas ratusan derajat Celcius.
Ribuan orang mati terpanggang dan
sakaratul maut membakar nyawa secara massal.
Peristiwa neraka 11 September 2001 itu adalah
kejahatan di luar kanvas imajinasi manusia.
Bahkan kecanggihan imajinasi Holywood pun
belum menyentuhnya.
Bila ada kejahatan berada di luar bingkai imajinasi,
sebaliknya adakah kebaikan yang menembus imajinasi?
Engkau bertanya di mana batas kebaikan?
Aku tercenung sejenak.
Aku menatap dalam-dalam warna putih
yang melekat di setiap inci rumahku.
Aku mencoba membayangkan warna putih
yang lebih putih dari putihnya rumahku.
Pasti ada. Putih yang di luar bingkai imajinasiku.
*
Belum ada komentar.