Esai 12
Nestapa Tao dari Waktu ke Waktu
Filsafat Tao dalam sejarahnya sering tersingkir di tempat kelahirannya. Gebalau politik biang keroknya.
MUTIARA filsafat Tao — salah satunya ajaran keseimbangan antara yin dan yang — sering terpuruk di pojok-pojok sejarah Cina. Nasib tersingkir di tempat kelahirannya sendiri dimulai ketika kaum misionaris Jesuit mendarat di Negeri Tiongkok pada abad ke-16. Di mata para pastor Katolik, penganut Tao dianggap sebagai pemeluk ajaran menyimpang (mi-sin). Karena kaum misionaris berhasil menggandeng penguasa Cina, ajaran Tao pun sempat terpinggirkan. Dalam perjalanan sejarah berikutnya, ajaran Tao beberapa kali menjadi korban pertikaian politik, dari waktu ke waktu.
Namun, ajaran Tao benar-benar dirusakkan oleh gebalau politik pada masa Revolusi Kebudayaan, 1964-1976. Ahli sinologi Kristofer Schipper, dalam buku The Taoist Body terbitan Pelanduk Publication Malaysia, 1996, menggambarkan bahwa agama kuno Cina waktu itu sama sekali hilang bentuk. “Terasa tidak ada seorang bijak pun di dunia ini,” kata Schipper. Soalnya, mendasarkan filosofi hidup pada ateisme, Ketua Mao Zedong menggeser agama-agama tradisional Cina dan menggantinya dengan “agama” lain: komunisme.
Untunglah, ajaran Tao tidak benar-benar punah. Ia bermigrasi ke desa-desa pantai Hong Kong dan ke negeri jiran, Taiwan. Para pemeluk Tao secara gigih mencoba mengumpulkan manuskrip Tao yang selamat dari keganasan Revolusi Kebudayaan. Di era modern Cina, ajaran Tao kembali muncul dengan caranya yang tak terduga. Salah satu bentuk kebangkitan Tao yang terpenting adalah antusiasme masyarakat untuk berlatih meditasi dan pernapasan qigong (baca “chikung”).
Sekarang pemerintahan komunis Cina di bawah Presiden Jiang Zemin memberikan koridor kebebasan yang lebih lebar untuk kegiatan spiritual. Tak hanya agama resmi seperti Katolik, Buddha, Islam, dan Kristen yang dibebaskan tumbuh, tapi juga kelompok-kelompok mistik dan klenik. Maka, aneh bila pemerintah Beijing kemudian melarang Falun Gong, kelompok meditasi yang mengadopsi teknik qigong. Ironi pun mengiris: banyak ilmuwan dunia telah lama melirik filsafat Timur — termasuk Taoisme — untuk melengkapi pendekatan mereka dalam mengapresiasi realitas alam, sementara di tanah kelahirannya sendiri, warisan Taoisme, disingkirkan. *
*) Artikel ini pernah dimuat di rubrik Selingan, majalah Tempo, edisi 22, Agustus 1999. Artikel ini dimuat ulang dalam blog pabrikbunyi.wordpress.com dengan sedikit perubahan.
Esai 11
Revolusi di Senja Peradaban Modern
Teknologi kloning muncul ketika paradigma sains mengalami transisi dari pandangan mekanis Descartes ke pandangan holistis.
Arthur C. Clarke, futurolog Sri Lanka, pernah meramalkan bahwa kloning pada manusia akan terwujud pada 2004. Entah mengapa ramalan Clarke ini meleset. Dunia memang berdebar-debar cemas akan dampak sosial-etis kloning pada manusia, dan puji Tuhan bahwa hingga tahun ini manusia kloning hanya muncul di film-film Holywood.
Piringanhitam Goes Transtv
Pengelola blog piringanhitam.blogspot.com Kelik M. Nugroho diundang ke acara talkshow berita Good Morning Transtv pada Kamis, 22 November 2007, jam 08.30. Pihak Good Morning ingin menampilkan profil kolektor piringan hitam dan kaset jadul. Kepada reporternya mbak Putri saya mencoba bertanya, mengapa mereka memilih saya, padahal banyak kolektor lain yang memiliki koleksi yang lebih banyak. Mbak Putri menjawab bahwa dia menemukan nama saya dari blog ini, dan satu-satunya blog kolektor yang memasang telepon hp yang bisa dihubungi hanyalah saya.
Atas undangan itu dan atas kepercayaan produser Good Morning Transtv, saya mengucapkan terima kasih. Saya merasakan ada aura dan semangat positif dari tim Good Morning ini. Bagi saya, undangan itu merupakan bentuk dari apresiasi mereka kepada upaya penghargaan atas karya-karya kreatif — yang dulu dilupakan — yang kini dirawat sebagian para kolektor.
Kepada mbak Rieke Diah Pitaloka dan mas Ferdi Hasan, presenter yang rileks dan hangat, saya juga merasakan aura penghargaan yang sama atas karya-karya seniman lama yang terekam dalam kaset jadul dan piringan hitam. Secara spontan, mas Ferdi menyetel satu lagu dari kaset P. Ramlee dan album Dasa Tembang Tercantik Prambors pertama pada 1977 yang antara lain berisi lagu Lilin-lilin Kecil. Mendengar musik itu untuk pengantar dan ilustrasi acara — yang dilakukan sendiri mas Ferdi Hasan, merupakan kejadian yang tak kan terlupakan.
Selamat dan terima kasih kepada tim Good Morning. Maju terus.
Kelik M. Nugroho
Pengelola blog:
piringanhitam.wordpress.com
pabrikbunyi.wordpress.com
arahguru.wordpress.com
Esai 10
Jejak ‘Konspirasi Aquarian’
Gelombang baru pendekatan agama: mementingkan spiritualitas daripada ritus agama.
FALUN Gong adalah ujung gunung es perubahan negeri Tiongkok menjelang milenium ketiga. Perubahan itu khususnya menyangkut cara pandang masyarakat Cina terhadap agama dan makrokosmos. Kelompok meditasi yang dikembangkan Li Hongzhi, seperti kata ulasan beberapa media, dianggap mewakili cara pandang baru dalam beragama. Tak lagi terkungkung oleh ritus, mereka menyedot langsung sari pati (substansi) agama. Pendekatan semacam itu menjadikan Falun Gong tampak aneh di mata pemerintah Cina. Kelompok Li pun dianggap sesat dan meresahkan masyarakat. Baca selebihnya »
Esai 9
Marhaban Ya Riset Puasa
Lembaga-lembaga riset tentang puasa Ramadan telah lama muncul di Maroko, Iran dan Amerika Serikat. Munculnya gairah riset bidang ini bagian dari gelombang dunia yang ingin mengintegrasikan sains dan agama.
Puasa di era fisika baru (istilah fisikawan Fritjof Capra) mulai memperoleh penjelasan secara ilmiah. Sebuah penerbitan The International Journal of Ramadan Fasting Research sejak 1997 mempublikasikan hasil riset akademis tentang puasa Ramadan. Salah satunya tulisan MZA Nomani Ph.D dari West Virginia University yang mengungkapkan bahwa puasa Ramadan yang dilakukan kalangan muslim berguna untuk mencegah meningkatnya kadar koleseterol darah dan kadar asam urat serta menunjukkan bahwa penyerapan protein oleh tubuh terproses lebih baik.
Buku 3
Judul: Suamiku Menangis
Karya: Wahyuniati Al-Waly
Penyunting: Eddy S. Soepadmo, Kelik M. Nugroho
Penerbit: Adzikra, Biro Perjalanan Haji dan Umroh, Jakarta
Cetakan I, September 2004
Novel karya kolaborasi ini mengisahkan perjalanan hidup Muhammad Arifin Ilham, seorang ustad yang cukup populer di Indonesia. Bunda Wahyuniati, sebagai isteri sang ustad, menjadi tokoh utama dan pencerita kisah tersebut. Episode-episode cerita dipaparkan seperti dalam album-album foto, tahap demi tahap. Cara berceritanya memenuhi standar cerita pendek dan novel dengan penekanan pada dialog dan monolog.
Novel 171 halaman ini harus diakui merupakan pemfiksian dari penggalan fakta-fakta yang direkam si penulis. Dan karena obyek cerita adalah seorang ustad yang menurut si penulis berahlak baik, atau manusia dengan M besar, novel ini sepi dari konflik – unsur utama dalam novel pada umumnya. Novel dakwah ini tepat dibaca di tengah suasana Ramadan. Baca selebihnya »
Wawancara 1
Wawancara dengan Andre Indrawan: *)
Komposer Muslim Secara Kuantitas Ketinggalan
Di peta musik dunia, jumlah dan karya komposer muslim secara kuantitas tertinggal jauh dibandingkan komposer non-muslim. Penyebab ketertinggalan itu antara lain kurangnya perhatian kalangan muslim terhadap musik, dan adanya faham kebanyakan ulama yang masih “menghindari” musik. Demikian antara lain dikatakan Drs. Andre Indrawan, M. Hum., M. Mus., L.Mus.A., 44 tahun, dosen di Jurusan Musik Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dalam wawancaranya dengan majalah Azzikra pada 7 Oktober 2005.
Lulusan ISI ini meraih gelar Master of Music di bidang teaching dan performance dari The University of Melbourne Australia pada 2000. Sebagai gitaris klasik, bapak kelahiran Bandung ini pernah meraih beberapa kualifikasi performance tertinggi di bidang gitar klasik dari Yamaha Music Foundation dan diploma Licentiate in Music (LMusA) dari Australian Music Examination Board pada 1997. Juara festival gitar Asia Tenggara pada 1978 ini juga menulis musik, khususnya dalam bidang transkripsi, aransemen dan pengeditan naskah musikal. Salah satu karyanya pernah ditampilkan di Australia pada 1999.
Kini Andre akan mengambil program S3 di UGM dengan proposal tesis tentang kajian etnomusikologis musik relijius Islamis di pesantren tradisional DIY. Bagaimana opini Andre tentang “musik Islam”? Berikut kutipan wawancaranya.
Esai 8
Spiritualitas Naguib Mahfouz
Kelik M. Nugroho *)
Naguib Mahfouz (1911-2006), sastrawan Mesir yang meninggal pada 30 Agustus 2006, pernah disebut wartawan majalah New Yorker sebagai seorang muslim sekuler. Secara harfiah, label sekuler yang menempel di belakang predikat muslim berarti orang yang berpaham pemisahan antara Islam dan negara. Fakta sejarah memang mengungkapkan bahwa Mahfouz pernah menjadi pengikut Saad Zaglul Pasha, pemimpin partai Wafd yang berhaluan nasionalis. Keterlibatan politik itu diakui dengan nada bangga oleh Mahfouz dalam wawancaranya dengan wartawan majalah Eropa, dan diakuinya juga sebagai langkah hidup yang sangat berarti. Baca selebihnya »
Esai 7
Kimia Seks dan Spiritualitas
Kelik M. Nugroho *)
Ibarat mahasiswa, Indonesia sekarang sedang menghadapi ujian untuk menyusun Undang-undang Antipornografi dan Pornoaksi. Disebut ujian, karena inilah untuk pertama kalinya Indonesia membahas peraturan bersama dalam bentuk undang-undang menyangkut pornografi, hal yang selalu menimbulkan kontroversi di tengah masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam sejak kemerdekaan hingga kini. Baca selebihnya »
Esai 6
Oleh Kelik M. Nugroho *)
Konsep tentang determinisme (dalam bahasa Arab: jabr), free will (dalam bahasa Arab: ikhtiar, dalam bahasa Indonesia: kehendak bebas) menjadi obyek pembahasan ulama muslim sejak abad kedua Hijriah. Konsep tentang determinisme dan free will ini juga sering dikaitkan dengan konsep takdir dan keadilan Tuhan. Topik ini masih menjadi topik filsafat yang menarik bagi masyarakat modern. Bahkan topik ini pada 2002 pernah diangkat sebagai tema film Minority Report, yang disutradarai Steven Spielberg dan dibintangi aktor terkenal Tom Cruise. Baca selebihnya »