Pabrik Bunyi

Personal music. Critical essays.

Esai 1

Ketegangan Paradigmatik Musik Islam

Kelik M. Nugroho *)

Para ulama fikih harus melirik para ulama sufi dalam hal mengapresiasi musik. Ulama arus utama dalam Islam harus diakui hingga kini masih mengalami ketegangan paradigmatik dalam mensikapi musik. Ulama Islam belum bisa merumuskan paradigma yang tepat terhadap musik. M. Abdul Jabbar Beg, doktor bidang pengkajian ketimuran dari Universitas Cambridge dalam buku Seni di dalam Peradaban Islam (Pustaka, 1988) mengatakan bahwa sikap Islam terhadap musik belum didefinisikan secara serius. Kaum muslim yang konservatif kurang memahami dan menghargai musik.

Nabi Muhammad sendiri, seperti kata Abdul Jabbar Beg, juga mempunyai sikap kurang mementingkan musik. Di era awal Islam, perhatian Nabi Muhammad terhadap musik sangat dipengaruhi musik-musik Arab zaman jahiliyah yang dekat dengan praktik sihir dan perdukunan. Karena ahli nujum kafir dan penyair menyenandungkan ramalan-ramalan dalam syairnya, maka hukum Islam melarang kedua praktek tersebut. Demikian seperti dikatakan Henry George Farmer, pakar musik Arab dari Inggris, dalam buku karya Abdul Jabbar Beg. Bisa jadi karena latar sosial itu, Nabi Muhammad cenderung memandang musik dari sisi fikih, boleh atau tidak boleh.

Padahal dalam mensikapi musik tak semudah menentukan keharaman tindakan kriminal. Beberapa ilmuwan muslim pernah mengelaborasi apa yang disebut musik. Ibnu Sina, ahli kedokteran yang mempunyai apresiasi pada musik, seperti disebut Henry George Farmer misalnya, kurang lebih berpendapat bahwa bunyi (musik) memiliki pengaruh pada jiwa melalui struktur materialnya dan kesamaannya pada jiwa. Pandangan yang kurang lebih sama juga disampaikan sufi Al-Hujwiri (abad 11), dan Algazali (abad 12). Intinya musik adalah sesuatu yang berada di luar kategori filosofis dan mampu mempengaruhi jiwa manusia secara spiritual.

Pandangan kalangan sufi memang cenderung positif terhadap musik. Mistikus Ibnu Arabi (abad 10) secara lebih jelas berpendapat bahwa musik bisa mengantarkan manusia untuk mencari kebenaran asasi. Kalimat Ibnu Arabi seperti dikutip Henry George Farmer lengkapnya begini: bahwa kebenaran asasi tidak dapat dicapai kecuali dengan melewati ekstase ketuhanan, dan ini paling baik dicapai dengan mendengarkan musik, kemudian hati akan tergerak untuk mencari Allah. Pendapat yang kurang lebih sama juga dinyatakan sufi Jalaluddin Rumi (abad 13).

Kalangan sufi ini mewakili pandangan ulama yang memandang musik dari sisi substansinya. Sementara kalangan ulama ahli fikih lebih cenderung memandang musik dari bentuk luarnya. Harus diakui bahwa pandangan ulama fikih ini masih menjadi arus utama faham yang berkembang di kalangan ulama muslim. Tak mengherankan bila perkembangan musik dari kalangan musisi muslim tak semaju karya kalangan non-muslim. Salah satu kendalanya ya ketegangan paradigmatik itu.

Komposer muslim
Namun beberapa komposer muslim kini berhasil menembus pasar dunia. Sebut saja Nusrat Fateh Ali Khan (Pakistan), Youssou N’Dour (Senegal) dan A.R. Rahman (India). Mereka secara kebetulan datang dari latar belakang lingkungan yang mengapresiasi tasawuf. Nusrat, misalnya, mewarisi musik qawwali dari tradisi tarekat Chistiyah. Youssou lahir dari lingkungan yang mempraktekkan tarekat Tijaniyah. Dan Rahman belajar tasawuf dari sufi Karimullah Shah Kadiri.

Nusrat, Youssou dan Rahman niscaya mewakili wajah komposer muslim kontemporer. Reputasi mereka tak diragukan. Youssou misalnya. Dia komposer, musisi dan penyanyi yang berhasil menyabet penghargaan musik internasional Grammy pada 2005 melalui album berjudul Egypt dalam kategori contemporary world music. Album ini berisi delapan lagu, antara lain Allah, Syukran Bamba, Tijaniyya, Bamba The Poet, dan Touba – Daru Salaam.

Album berisi lagu-lagu religius dari khasanah Islam ini memakai lirik dalam bahasa Senegal. Puji Tuhan bahwa album ini dimaksudkan oleh Youssou sebagai persembahan untuk Islam. Melalui album ini, Youssou merayakan tradisi sufisme di Senegal, sebuah negara yang berpenduduk mayoritas muslim dan banyak yang menjadi pengikut tarekat Tijaniyah.

Dalam album ini, Youssou tetap berpijak pada musik mbalax, musik tradisional campuran perkusi dan nyanyian puji-pujian ala Afro-Cuba, sebuah jenis musik yang berkembang setelah migrasi orang-orang Karibia ke Afrika Barat pada 1940-an. Dari warna dasar itu, Youssou mencampurnya dengan unsur musik tradisional Mesir, dan kemegahan orkestra Mesir lengkap dengan sentuhan string, flute dan perkusi. Youssou dikenal dunia melalui kolaborasinya dengan komposer Peter Gabriel, musisi dari kelompok musik rock Genesis yang belakangan memelopori kemunculan genre musik baru yang disebut World Music.

Sebelum Youssou, penyanyi muslim yang diakui dunia adalah Nusrat Fateh Ali Khan. Penyanyi tradisional Pakistan ini menampilkan lirik-lirik sufisme dalam tradisi musik Qawwali. Musik ini bertumpu pada permainan tabla, dholak, sitar dan semacam akordion. Dengan melodi yang cenderung repetitif dan alunan vokal yang melengking, musik jenis ini biasanya dipakai untuk mengantarkan pendengarnya ke suasana meditatif.

Nusrat yang meninggal pada 1997 adalah penyanyi pertama dari Asia yang berhasil menembus pasar Barat. Lengkingan vokalnya pernah menghiasi salah satu soundtrack film The Last Temptation of Christ garapan musisi Peter Gabriel. Tokoh musik rock ini juga menerbitkan lima album Nusrat melalui label Real World. Suara Nusrat juga pernah dipakai untuk soundtrack film Deadman Walking. Namun karya kolaborasinya dengan gitaris Kanada Michael Brook yang menghasilkan dua album niscaya merupakan album terbaik Nusrat. Dalam album ini, melodi tradisional Nusrat memperoleh bungkus aransemen Michael Brook yang modern dan manis.

Komposer muslim lain yang sukses adalah A.R. Rahman, 39 tahun. Musisi asal India ini berhasil menyabet penghargaan sebagai penata musik terbaik untuk film antara lain Lagaan dari ajang Penghargaan Film Nasional India. Film ini juga memperoleh nominasi penghargaan untuk film asing di ajang festival film dunia Oscar. Berkat reputasinya, komposer musik opera Inggris Andrew Lloyd Weber menggandengnya dalam proyek musik opera Bombay Dreams pada 2002. Sekarang ini Rahman bersama band Varttina sedang menggarap komposisi untuk proyek musik film The Lord of The Rings yang akan digelar di Toronto pada Maret 2006.

Rahman yang bernama asli A.S. Dileep Kumar dikenal di India sebagai komposer musik film populer. Karya perdananya untuk film Roja pada 1992 menurut majalah Time merupakan satu dari sepuluh soundtrack film terbaik sepanjang masa. Lahir dari keluarga musisi, Rahman sejak 11 tahun bermain keyboard untuk pertunjukan keliling. Meniti karir musik bersama beberapa musisi terkenal seperti Zakir Hussain, Rahman memperoleh beasiswa untuk belajar musik di Trinity College Music di Universitas Oxford dan berhasil memperoleh gelar akademis di bidang musik klasik Barat.

Karya Rahman dikenal melodius, cacthy, dengan menggabungkan elemen teknologi modern dan musik klasik India. Dia juga jago mengadopsi musik-musik klasik, dan mengoplosnya dengan musik pop, reggae dan musik tradisional India untuk membangun suasana musikal baru dan renyah. Contoh dari eksperimen ini adalah album Lagaan.

Nusrat, Youssou dan Rahman secara jelas menunjukkan identitas kemusliman mereka. Seperti Youssou, dalam kaitan album Egypt, dia berkomentar di situs NPR bahwa album tersebut untuk memuji toleransi yang diajarkan Islam. Pernyataan itu, dalam kaitan penghargaan Grammy – ajang apresiasi musik dunia, jelas menggaungkan pesan ke dunia. Pernyataan ini sangat relevan di tengah hujatan Barat terhadap Islam yang akhir-akhir ini dituduh mendukung terorisme.

World music
Sementara Nusrat, lagu-lagunya memang berisi lirik puji-pujian relijius kepada Allah dan Muhammad. Bahwa lagu-lagu Nusrat yang sangat Islam ini, juga album Egypt, diterima pasar Barat yang umumnya dari kalangan non-muslim itu tentu merupakan fenomena tersendiri. Ada gejala apa ini? Salah satu faktornya, mungkin karena selera musik dunia yang memang sedang terpesona pada musik etnik, atau world music.

Istilah world music, menurut situs Wikipedia, adalah sebutan untuk semua jenis musik di luar arus utama musik pop dan klasik, serta mengandung unsur etnik. Konotasi lain istilah ini adalah musik pop dan folk dari negara berkembang, musik pop dan folk dari Eropa yang terpengaruh oleh musik negara berkembang, dan musik tradisional dari mana saja. Istilah ini juga dipakai untuk memudahkan pemasaran dengan mengkategorikan world music untuk jenis musik yang tak berbahasa Inggris.

Istilah ini mulai muncul pada 1987. Adalah penyanyi Paul Simon yang diketahui dan dianggap memakai jenis musik ini pertama kali dalam album berjudul Graceland. Dalam album ini, dia menggandeng seniman-seniman Afrika Selatan untuk mendukung konsep musiknya. Namun yang diakui berhasil memperkenalkan world music ke telinga dunia adalah Peter Gabriel, pentolan grup musik Genesis. Dia mempunyai proyek dan perusahaan rekaman bernama Real World. Nama lain yang juga berperan Johnny Clegg.

Secara sosiologis, jenis musik ini muncul setelah mobilitas dan komunikasi manusia antar negara berderap leluasa. Akses komunikasi yang semakin terbuka dan sarana transportasi yang semakin canggih dari hari ke hari menciptakan kesaling-terpengaruh antar musisi sedemikian niscaya. Kecenderungan ini menciptakan fenemona yang disebut lintas batas (cross over): musisi dari berbagai negara diperkaya dan dipengaruhi musisi dari negara lain.

Beyond fiqh
Di dunia Islam sendiri, kemunculan musik Youssou dan Rahman tak menimbulkan resistensi di kalangan muslim konservatif yang memenjarakan musik dalam kotak fikih, haram atau halal. Hal itu mungkin karena Youssou muncul pada saat yang tepat, ketika world music telah diterima dunia. Sementara Rahman relatif sepi dari kontroversi, karena musik dan liriknya lebih cenderung universal dan tak menggunakan genre relijius. Hanya Nusrat yang pernah dikecam kalangan muslim konservatif, karena mencampurkan musik qawwali dari tradisi tasawuf mazhab Chistiyah dengan musik techno.

Era world music merupakan berkah bagi dunia Islam. Di era ketika “dunia bisa dilipat” ini, kehadiran komposer muslim di panggung dunia tak lagi dijerat dengan pandangan-pandangan fikih yang sempit. Tampaknya inilah era music beyond fiqh. Ini sebuah kemajuan yang melesat dan sebetulnya merupakan revolusi. Memang salah satu pekerjaan pemikir Islam kini dalam bidang musik, yaitu menyelesaikan ketegangan paradigmatik dalam mempersepsi musik. Nusrat, Youssou dan Rahman merupakan preseden yang positif. *

*) Versi asli artikel ini pernah dimuat di majalah AZZIKRA Jakarta edisi September 2005.

April 22, 2007 - Posted by | Essay

2 Komentar »

  1. selama musik itu tidak menimbulkan syahwat dan tidak menggannggu orang lain, kayaknya wajar2 aja.tapi ingat juga, jangan sampe larut dalam musik sehingga agama jadi no 2. jalankan kewajiban sebagai umat muslim.
    tapi jaman makin gila, banyak pemusik naik haji tapi aurat tetap aja nampak.trus lebih mengutamakan karier dr pada agamaya.soal tutup aurat ato tidak, itu hal biasa yg penting TENARRRR…..,subhanallah!!

    Komentar oleh ranub | April 26, 2007 | Balas

  2. betul itu

    Komentar oleh aslam | Januari 17, 2010 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: