Pabrik Bunyi

Personal music. Critical essays.

Esai 3

Pendekatan Rendah Hati *)

Oleh Kelik M. Nugroho

1.

Kemenangan SBY sebagai presiden terpilih tidak lepas dari kecerdikannya memainkan politik informasi, lewat berbagai kemasan citra (virtual) dalam berbagai iklan politik. Citra diri sebagai demokrat, yang teraniaya, yang merakyat, yang mau mendengarkan (rakyat) merupakan “realitas virtual” yang harus diubah menjadi “realitas sesungguhnya” oleh pemerintahan SBY, sebagai cara menghargai kedaulatan rakyat itu sendiri. (Yasraf Amir Pilliang, Harian Kompas, 8 November 2004)

2.

Kemenangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada pemilihan Presiden 2004 telah membuka ruang-ruang imajinasi analisis politik. Kutipan artikel tersebut salah satu contohnya. Pertanyaannya apakah benar SBY secanggih itu – seperti isi artikel tersebut — sehingga dia mampu menyihir masyarakat pemilih melalui pencitraan virtual? Pertanyaan lain apakah teori hyperrealitas yang dirumuskan filsuf media asal Prancis Jean Baudrillard sudah bisa dipakai untuk menganalisis gejala politik di Indonesia? Mohon maaf, kalau kami hanya bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis daripada memberikan penjelasan berupa kontra argumen.

Sebagai orang yang sehari-hari bergelut dengan masalah agama, kami lebih cenderung ingin melihat fenomena SBY dari sisi spiritualitas. Kekuasaan – dalam proses-proses yang demokratis dan relatif bersih dari politik main uang – menurut kami merupakan gabungan proses yang bersifat dialektis, selain yang bersifat ilahiah. Ada faktor-faktor ilahiah antara lain momentum, keberuntungan dan konstelasi psikologi massa, yang ikut mempengaruhi proses pemilihan. Faktor-faktor ini tentu saja kemudian mendukung upaya manusiawi yang dilakukan oleh sang calon presiden. Dalam bahasa Al Quran, Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kalau mereka tidak berupaya juga untuk mengubahnya. Jadi dari sisi ajaran Islam, ada ikhtiar manusia, dan ada takdir Allah di sisi yang lain.

Cara pandang ini penting dalam kerangka membangun landasan moral untuk melangkah ke perjuangan berikut. Cara pandang religius ini merupakan kearifan yang diajarkan oleh agama-agama, termasuk Islam. Di kalangan sebagian masyarakat modern, cara pandang religius ini lebih sering diabaikan. Mereka menganggap bahwa perjuangan itu sepenuhnya hasil upaya manusia, tanpa campur tangan Allah. Pendapat seperti ini biasa berujung pada sikap sombong. Dan sikap sombong biasanya menyeret manusia melakukan kesalahan-kesalahan yang ujung-ujungnya meruntuhkan fondasi yang telah dibangun.

Sementara Islam mengajarkan manusia untuk bersikap rendah hati dengan selalu mengucap hamdalah (segala puji hanya bagi Allah) atas segala kesuksesan yang diperolehnya. Setelah hamdalah, Islam mengajarkan manusia untuk bersyukur. Karena dengan syukur, kesuksesan akan menjadi sebuah kemajuan yang berkelanjutan (sustainability). Dalam bahasa Al Quran, “Jika kalian bersyukur, maka akan aku tambahkan nikmatmu.”

Landasan moral berupa rendah hati dan syukur ini mungkin bagi masyarakat modern diangggap sebagai kenyinyiran kaum agamawan. Padahal menurut kami, moralitas rendah hati, juga syukur, yang tertulis di dalam Al Quran, bisa ditransformasikan sebagai bagian dari moralitas modern. Menurut Dr. Kuntowijoyo, cendekiawan muslim dan ahli sejarah, bahwa premis-premis normatif Al-Quran dapat dirumuskan menjadi teori-teori yang empiris dan rasional. (Buku Paradigma Islam, 1991)

Kalau mau, masyarakat modern bisa menjadikan moralitas rendah hati sebagai landasan untuk membangun peradaban yang berkelanjutan. Dalam sejarah, betapa banyak bangsa yang pernah mengalami masa kejayaan dalam bidang peradaban namun kemudian runtuh. Keruntuhan peradaban itu tak terkecuali pernah menimpa umat Islam, setelah mereka pernah mengalami masa kejayaan di masa kekhalifahan Nabi Muhammad dan di masa dinasti Abasiyah.

3.

Sejarah sains modern sendiri memiliki cerita sukses, selain dampak negatif berupa krisis lingkungan global. Teknologi dan ilmu pengetahuan modern yang berangkat dari revolusi ilmiah zaman pencerahan terbukti sukses memajukan peradaban modern. Namun kini kita tahu peradaban modern – seperti kata fisikawan Fritjof Capra – berada di ambang senja.

Benarkah peradaban modern di ambang senja? Mungkin tak sepenuhnya benar. Karena bagaimana pun, pada tingkat materi, pola fikir fisika klasik pastilah tetap berlaku. Namun yang menjadi masalah, adalah ketika paradigma materialistik itu dipakai untuk memahami tingkat-tingkat eksistensi yang lebih tinggi, misalnya pengalaman religius. Langkah itu sejatinya menyalahi asas ketepatan (adaequatio), salah satu kebenaran perennial tentang perlengkapan manusia untuk berhadapan dengan dunia.

Pengalaman religius dan kaitannya dengan mekanisme kimiawi dalam otak kini menjadi salah satu obyek kajian penting dalam sains. Demikian seperti dikatakan Fraser Watts, dosen theologi dan fisika pada Universitas Cambridge, dalam buku God for 21 st Century, terbitan Templeton Press, 2000. Selengkapnya kutipan tersebut begini: How the brain is involved in religion is a topic at the frontiers of science. It is linked to the problem of how the brain gives rise to any kind of consciousness, which is perhaps one of the biggest mysteries left for science to solve.

Memang selama sekitar tiga setengah abad paradigma fisika Newton merajai dunia ilmu pengetahuan. Hal itu karena sukses besar yang ditunjukkan oleh pola pikir dan metode kerja paham materialisme ilmiah, seperti terbukti dalam perkembangan sains dan teknologi modern dalam mengungkapkan dan mendayagunakan potensi-potensi yang terkandung dalam alam, bagi pemenuhan kebutuhan manusia.

Namun dalam perkembangan sejarah, paradigma fisika klasik – yang kemudian juga mempengaruhi ilmu-ilmu sosial dan ekonomi – terbukti menimbulkan efek samping berupa dehumanisasi dan justru menyingkirkan manusia dari tujuan utama ilmu pengetahuan. Kesalahan sains modern adalah menyingkirkan sisi-sisi spiritual dari alam semesta. Seperti bisa dibaca dalam buku Visi Baru Kehidupan (2002), J. Sudarminta SJ mengatakan bahwa paradigma yang memodelkan pola fikir fisika klasik (yakni model Descartes-Galileo-Newton) adalah paradigma yang melihat alam sebagai materi yang terbentang, tak bernyawa, tak bernilai pada dirinya dan tak bertujuan.

Dalam pandangan kami, paradigma ilmu pengetahuan dan sains modern – berdasarkan pola fikir fisika klasik — pernah tergelincir pada sikap sombong, dengan memakai paradigma materialisme ilmiah untuk membahas wilayah eksistensi yang lebih tinggi. Dalam bahasa yang negatif, ilmu pengetahuan modern bahkan menyingkirkan sisi-sisi spiritual dari wacana sains.

4.

Belajar dari krisis, muncullah gelombang baru yang disebut gerakan New Age. Gerakan ini bermula dari gerakan keberagamaan yang mengibarkan bendera “organized religion no, spirituality yes”. Kemunculan gejala keberagamaan baru ini sebetulnya antitesis terhadap agama-agama Barat yang juga mengalami krisis. Agama terlembaga dianggap sebagai faktor pendukung keruntuhan moral manusia modern, karena dinilai tak mampu memberikan jawaban-jawaban atas krisis yang ada.

Namun secara epistemologis, gerakan New Age merupakan dampak positif dari pandangan kalangan ilmuwan baru semacam fisikawan Fritjof Capra. Melalui buku-buku semacam The Tao of Physics dan Web of Life, pionir fisika baru itu membuka mata sebagian masyarakat Barat akan cara pandang baru terhadap akar krisis ekologi. Pemikiran-pemikiran Capra ini didasarkan pada temuan-temuan baru sains khususnya fisika kuantum. Para pemikir fisika baru ini menawarkan cara pandang holistik dalam sains.

Namun kehadiran Capra tak otomatis diterima oleh kalangan ilmuwan arus utama (mainstream). Walaupun menjadi gelombang baru yang sangat berpengaruh, Capra tetaplah berada di pinggiran panggung sains. Pemikiran-pemikirannya melompat terlalu jauh. Namun tidak berarti kalangan ilmuwan arus utama menutup mata terhadap dampak epistemologi temuan-temuan sains baru. Paling tidak, sejumlah ilmuwan arus utama mulai bersikap rendah hati dalam mempelajari sains.

Alhamdulillah, sejumlah ilmuwan Indonesia cepat menangkap perkembangan terbaru ini. Pada 2002, Kota Jogja menjadi tuan rumah sebuah konferensi internasional bagian dari program Science and Spritual Quest. Acara itu diselenggarakan oleh Program Studi Lintas Budaya Pascasarjana Universitas Gadjah Mada. Program Science and Spiritual Quest dikembangkan sebuah Yayasan Templeton yang bermarkas di Harvard Amerika Serikat dan melibatkan sejumlah ilmuwan dunia dalam berbagai bidang, utamanya astronomi dan fisika. Science and Spiritual Quest adalah semacam forum kajian untuk membahas perkembangan sains dalam kaitan spiritualitas.

Para ilmuwan mainstream ini tetap berpijak pada metodologi-metodologi standar dunia akademik dalam mengelaborasi titik-titik singgung antara sains dan spiritualitas. Forum ini mewakili arus kecenderungan baru – pasca kaum rasionalis ala Descartes dan Kant — dalam mendekati sains sebagai sebuah kajian akademis. Karena temuan-temuan dan pandangan-pandangan sejumlah ilmuwan yang mengindikasikan bahwa semesta merupakan jejak-jejak kecerdasan Tuhan, majalah Newsweek pernah mengangkat adanya gelombang baru kalangan ilmuwan dengan judul yang provokatif: Science Finds God.

Tampaknya belajar dari pengalaman gelombang materialisme ilmiah, kaum ilmuwan arus utama ini memiliki kecenderungan untuk menjadi lebih rendah hati di depan “samudera realitas”. Mehdi Gholsani, ahli fisika Iran yang ikut dalam konferensi di Jogja itu, menyatakan bahwa kesalahan manusia modern adalah menjadikan temuan sains yang empirik sebagai paradigma untuk semua. Bagaimana tanggapan Gholsani tentang Capra? Di mata Gholsani, pemikiran Capra bukan tak berarti. Paling tidak menurut dia, Capra merintis jalan untuk sebuah paradigma baru dalam sains dan kehidupan.

5.

Percayalah, bahwa para ilmuwan akan terus berkutat dan mencari jawab atas pertanyaan-pertanyaan besar tentang sains, semesta dan Tuhan. Dari sisi iman Islam, Allah dalam Al Quran memang jelas sering mengatakan bahwa semesta dan kehidupan ini adalah disain Allah. Namun untuk menjadikan cara pandang Al Quran untuk mempersepsi sains, bukan hal yang mudah. Yang kita butuhkan memang tahapan-tahapan metodologis untuk sampai ke sana.

Mungkin ada sedikit celah menuju ke sana. Dalam forum konferensi di Jogja, juga muncul diskusi tentang hirarki ilmu. Metode rasional empiris yang selama ini dipakai ilmuwan untuk membaca hukum fisika, memang bisa dipakai untuk menganalisis realitas di tingkat materi. Namun bagaimana dengan realitas di tingkat mikrokosmos yang kini terbuka dengan adanya fisika kuantum? Untuk menganalisis realitas pada lapis-lapis eksistensi yang lebih tinggi – sebutlah ruang misterium — itu dibutuhkan hirarki ilmu yang lebih tinggi. Apa itu?

Dosen fisika Institut Teknologi Bandung dan filsuf Armahedi Mahzar dalam buku Integralisme (1983), mengintegrasikan konspep hirarki alam-alam menurut tradisi tarekat – juga sebagian dari sufi Al Ghazali dan Ibnu Arabi – ke dalam “frame” filsafat modern. Menurut tradisi tarekat, realitas memiliki hirarki alam hahut (esensi transendental)- alam lahut (nilai-nilai) – alam malakut (informasi) – alam jabarut (energi) – alam nasut (materi). Hirarki itu sejajar dengan hirarki kategoris ilmu modern, yaitu “materi-energi-informasi-nilai”. Selanjutnya filsafat integralisme mengidentifikasikan hirarki ini dengan alam-alam gaib realitas suprakosmik yang diabaikan oleh ilmu pengetahuan modern selama ini.

Sodoran filsafat integralisme Armahedi dalam perkembangannya tak begitu populer di Indonesia. Namun ada substansi yang bisa kita pakai dalam memahami hirarki realitas, bahwa manusia pasca modern kini semestinya memakai pendekatan rendah hati untuk mempelajari semesta yang mengandung “samudera realitas” dan lapis-lapis eksistensi yang lebih tinggi. Pesan moral dari sejarah sains modern menunjukkan bahwa kerendah-hatian yang merupakan ajaran agama, khususnya Islam, bisa ditransformasikan untuk menjadi moralitas modern.

6.

Apa manfaat kerendahan-hati? Sir John Templeton, perintis riset sains dan agama, yang menyodorkan pendekatan rendah hati dalam teologi dan sains, mengatakan bahwa kerendahan-hati bisa menjadi gerbang untuk mengembangkan pemahaman yang lebih dalam tentang realitas, baik dalam bidang sains maupun agama.

Hasil dari pendekatan ini berupa sebuah pandangan hidup – juga terhadap manusia – yang lebih utuh dan lengkap. Salah satu bidang yang cepat menerima percikan berkah dari pendekatan ini justru bidang manajemen dan kepemimpinan dalam konteks bisnis. Sejumlah perusahaan dunia terkemuka telah menerapkan sebagian prinsip-prinsip manajemen yang mengambil inspirasi dari paradigma holistik. Banyak perusahaan yang tak lagi mengejar doktrin “profit maximization”. Bagi mereka, profit merupakan efek dari pelayanan dan hasil dari manajemen yang baik, bukan sasaran utama.

Bagaimana dengan pengelolaan negara? Karena presiden adalah jabatan politik, pengelolaan negara dengan paradigma baru adalah keniscayaan. Tanpa pendekatan rendah hati, kekuasaan yang adalah seperti dewa yang dengki, yang tak ingin melihat manusia bebas dari cakar dan bujuknya – seperti kata Goenawan Mohamad, akan menggelincirkan pemegang kekuasaan ke jurang dehumanisasi dan krisis kembali. *

*) Esai ini pernah dimuat dalam buku Pemimpi Perubahan: PR untuk Presiden RI 2004-2009, terbitan Kotakita Press, 2004.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mei 7, 2007 - Posted by | Essay

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: