Pabrik Bunyi

Personal music. Critical essays.

Buku 2

 buku Pemimpi Perubahan

Pemimpi Perubahan: Cerita Pembuatan Buku

Inilah buku pertama di Indonesia yang memuat sejumlah gagasan tentang berbagai aspek pembangunan, tak ubahnya program bayangan untuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Sebuah penerbit meluncurkan buku berjudul Pemimpi Perubahan: PR untuk Presiden RI 2005-2009 di gedung Perpustakaan Nasional, Jalan Salemba, Jakarta, pada 21 Desember siang. Acara yang dihadiri sekitar 300 orang dari kalangan intelektual, mahasiswa, dan aktivis, termasuk sekitar 22 penulis yang terlibat dalam penulisan buku tersebut, sepi dari liputan media baik cetak maupun elektronik.

Padahal upacara peluncuran itu dipimpin oleh nama-nama terkenal seperti Garin Nugroho (sutradara yang menjadi kurator buku), Yuddy Chrisnandi (anggota DPR dari Partai Golkar yang juga menjadi kurator buku), dan Dr Karlina Supelli (yang memberikan orasi ilmiah). Setelah peluncuran, buku itu akan diserahkan ke para pejabat eksekutif dan legislatif.

Peluncuran sebuah buku tampaknya membutuhkan strategi yang die hard untuk merebut liputan media. Dunia buku dan dunia pemikiran, seperti juga festival fisika junior yang baru-baru ini diadakan di Jakarta, adalah bidang-bidang yang harus siap sepi, siap sunyi, persis seperti kata judul tinjauan yang ditulis Yuddy Chrisnandi dalam buku itu. Tak mengherankan kalau novelis Ayu Utami, salah satu penulis dalam buku tersebut, berpendapat bahwa diperlukan strategi semacam acara Tok Tok Wow untuk memasyarakatkan budaya membaca buku. Apalagi budaya menulis buku dan dunia pemikiran.

Pemimpi Perubahan adalah buku berisi sejumlah gagasan–yang rata-rata dirumuskan dalam sepuluh pekerjaan rumah–dalam berbagai bidang antara lain politik, keamanan, pendidikan, pertanian, ekonomi, hukum, agama, sains, dan budaya. Penulis yang terlibat diharuskan berusia di bawah 40 tahun, seperti Eep Saefulloh Fatah, Saldi Isra, Zainal Abidin Bagir, Nirwan Ahmad Arsuka, dan Ayu Utami. Buku yang merupakan kumpulan tulisan baru, artinya belum pernah dimuat di media, itu dimaksudkan sebagai referensi alternatif (kalau tak mau disebut program bayangan), untuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Sebagai sebuah ide, penerbitan buku dengan pendekatan semacam ini bisa dikatakan sebagai yang pertama di Indonesia. Sebelumnya memang ada buku yang berisi pesan-pesan untuk presiden, namun penggarapannya sangat berbeda. Mungkin karena dianggap sebagai ide genial, sejumlah penulis yang diminta terlibat dalam penulisan menyambutnya dengan antusias. Padahal waktu yang tersedia untuk masing-masing penulis hanya 10 hari. Ayu Utami, misalnya, walaupun sedang berada di Prancis, menyempatkan diri untuk mencari bahan-bahan tulisan tentang budaya. Arif Satria, yang menulis di bidang perikanan, menuliskan gagasannya di tengah kesibukannya kuliah di Jepang.

Siapa penerbit yang mau bercapek-capek menerbitkan buku setebal 442 halaman itu? Namanya memang belum sepopuler Gramedia dan Mizan, namun gagasannya sering “gila”, itulah penerbit Kotakitapress yang bermarkas di Jalan Siaga II, Pasar Minggu, Jakarta. Penampilan fisik kantornya biasa-biasa saja. Ada teras bertegel merah sekitar 4 meter persegi di depannya. Lalu di dalamnya ada ruang-ruang untuk tamu, bagian desain, resepsionis, ruang direktur, ruang rapat, ruang staf, dan dapur. Fasilitas pendingin udara hanya ada satu, yaitu di ruang direktur. Di ruang sekitar 3×4 meter itulah buku tersebut diproses. Yang terlibat untuk diskusi, pengeditan, penentuan judul, dan desain tak lebih dari lima orang.

Komunikasi dengan para penulis dilakukan melalui e-mail, SMS, dan telepon. Hanya beberapa penulis yang harus dihubungi secara langsung. Rustriningsih, misalnya. Bupati Kebumen itu bersedia terbang ke Jakarta dan bertemu dengan penerbit di sebuah kantor advertising di Jakarta. Pertemuan itu untuk membicarakan format tulisan untuk bidang otonomi daerah. Hasil dari obrolan di Jakarta itu berupa ide untuk menuliskan soal otonomi daerah dan good governance dalam format surat. Inilah satu-satunya artikel dalam buku ini yang disampaikan secara bertutur. Cara itu dianggap paling pas untuk mengungkapkan pengalaman Bupati Rustriningsih, yang penuh nuansa dan drama, dalam mengelola kabupaten. Seperti diketahui Rustriningsih adalah bupati yang dianggap berhasil mengelola kabupaten, dengan sejumlah indikasi yang termuat dalam buku, yang diharapkan bisa menjadi inspirasi untuk presiden. *

 

*) Berita buku ini pernah dimuat di rubrik Referensi pada Koran Tempo, edisi Selasa, 04 Januari 2005

 

Mei 15, 2007 - Posted by | Book

1 Komentar »

  1. salam,
    blognya saya link

    Komentar oleh ika | Mei 22, 2007 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: