Pabrik Bunyi

Personal music. Critical essays.

Esai 6

Gempa Yogya dan Konsep Takdir Nurcholish

Oleh Kelik M. Nugroho *)

Konsep tentang determinisme (dalam bahasa Arab: jabr), free will (dalam bahasa Arab: ikhtiar, dalam bahasa Indonesia: kehendak bebas) menjadi obyek pembahasan ulama muslim sejak abad kedua Hijriah. Konsep tentang determinisme dan free will ini juga sering dikaitkan dengan konsep takdir dan keadilan Tuhan. Topik ini masih menjadi topik filsafat yang menarik bagi masyarakat modern. Bahkan topik ini pada 2002 pernah diangkat sebagai tema film Minority Report, yang disutradarai Steven Spielberg dan dibintangi aktor terkenal Tom Cruise.

Dalam sejarah teologi Islam, muncul dua mazhab utama yang saling berlawanan dalam mengkonsepsi determinisme. Pertama, mazhab Jabariah yang mendukung konsep determinisme. Kedua, mazhab Qodariah yang mendukung konsep free will. Dalam suatu periode, mazhab Jabariah disebut dengan mazhab Asy’ariah, dan Qodariah dengan mazhab Mu’tazilah. Pusat perdebatan teologis tentang determinisme yang pertama adalah lingkungan ulama Hasan Basri (meninggal pada 110 H/729 M). Beberapa ulama yang mendukung dengan gigih ide kehendak bebas adalah Ma’bad al-Juhani (meninggal pada 80 H/699 M) dan Ghailan bin Muslim ad Dimasyqi (meninggal pada 105 H/723 M).

Tulisan ini ingin mencoba memberikan pemaknaan yang lebih modern terhadap konsep takdir menurut mazhab Syiah dan menurut cendekiawan neo-modernis Indonesia, Prof Dr Nurcholish Madjid. Selain itu, wacana tentang takdir ini untuk memberikan alternatif cara pandang dalam menafsirkan bencana, seperti gempa hebat yang menewaskan ribuan orang di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah pada 2006.

Menurut ulama Syiah, Murtadha Muthahhari, dalam buku Pengantar Ilmu-ilmu Islam, terbitan Pustaka Zahra, 2003, masalah determinisme dan kehendak bebas sama dengan masalah predestinasi (sudah lebih dulu ditentukan oleh Tuhan) dan takdir Tuhan (qadha wa qadar). Formulasi pertama berkaitan dengan manusia dan kehendak bebasnya, sedangkan formula kedua berhubungan dengan Tuhan.

Akidah kehendak bebas Syiah, pada tingkat tertentu, sama dengan akidah kehendak bebas Mu’tazilah. Namun, berkenaan dengan makna kehendak bebas, keduanya berbeda. Kemerdekaan atau kehendak bebas manusia, bagi Mu’tazilah, sama dengan tafwidh Ilahiah, yaitu Allah menyerahkan nasib manusia kepada manusia itu sendiri dan kehendak Allah tidak lagi efektif perannya. Sementara itu, menurut keyakinan Syiah, kemerdekaan dan kehendak bebas mengandung makna bahwa manusia diciptakan sebagai makhluk yang merdeka. Tapi eksistensi manusia beserta segenap mode eksistensinya, termasuk cara bertindaknya, seperti makhluk lainnya, sepenuhnya bergantung pada zat Allah. Eksistensi manusia dan semua mode eksistensi manusia berasal dan bergantung pada kepedulian Allah, dan mereka berupaya mendapat pertolongan dari kehendak-Nya.

Karena itu, dalam Syiah, posisi kehendak bebas dan kemerdekaan letaknya di antara predestinasi mutlak atau jabr-nya Asy’ariyah, dan akidah kebebasan manusianya Mu’tazilah. Inilah makna ucapan termasyhur para Imam Maksum bahwa tak ada jabr dan tak ada tafwidh, tapi yang ada antara dua alternatif itu (Pengantar Ilmu-ilmu Islam oleh Murtadha Muthahhari, Pustaka Zahra, 2003).

Prof Dr Nurholish Madjid, cendekiawan neo-modernis Indonesia, dalam buku Pintu-pintu Menuju Tuhan, terbitan Paramadina, 1994, menyodorkan pengertian tentang takdir yang dekat dengan pandangan Syiah. Nurcholish mengalobarasi pengertian takdir berdasarkan rujukan tekstual Al-Quran dalam terang sains modern. Mengutip beberapa ayat Al-Qur’an, yaitu surah Al-An’am 96, surah Yasin 38, dan surah Fushilat 12, Nurcholish mengartikan takdir sebagai hukum alam.

Berikut ini kutipan pendapat Nurcholish. Maka, kalau kita perhatikan firman-firman yang mengandung perkataan takdir itu, kita mengetahui bahwa istilah itu digunakan dalam maknanya sebagai sistem hukum Tuhan untuk alam raya (singkatnya, hukum alam). Dan sebagai hukum alam, tidak satu pun gejala alam yang terlepas dari Dia, termasuk amal perbuatan manusia. Karena itu, perkataan taqdir dan qadar, sebagai derivasi dari akar kata yang sama, juga digunakan dalam pengertian hukum kepastian yang sepasti-pastinya.

Justru unsur kepastiannya, maka takdir memang tidak dapat dilawan oleh manusia. Karena itu, manusia harus tunduk dan patuh serta menyerah dan pasrah pada takdir itu. Tapi berbeda dengan pengertian umum, tunduk patuh serta menyerah pasrah pada takdir itu, sepanjang pengertian takdir menurut firman tersebut, ialah bahwa dalam segala perbuatan kita harus memperhatikan dan memperhitungkan hukum kepastian Tuhan dalam alam raya ini, karena kita memang tidak mungkin melawan atau mengubahnya.

Kalau dalam amal perbuatan kita harus memperhitungkan takdir Tuhan sebagai hukum kepastian alam ciptaan-Nya itu, syarat pertamanya, dengan sendirinya, ialah kita harus memahami hukum-hukum itu dengan sebaik-baiknya. Karena takdir tidak lain adalah hukum ketetapan Allah, tunduk pada takdir adalah suatu kemestian bagi semua yang pasrah (Islam) kepada-Nya, dan percaya pada takdir bagian integral dari iman kepada Allah.

Makna percaya pada takdir dan keharusan melakukan ikhtiar ialah percaya, dan menerima hukum-hukum kepastian yang menguasai hidup kita, baik dalam lingkungan fisiknya maupun sosialnya, kemudian melaksanakan perintah Ilahi untuk berusaha memberi hukum-hukum itu dengan observasi pada gejala-gejala alam material dan sosial (sejarah), serta mencoba memedomani hukum-hukum itu dalam bertindak demi mencapai tujuan. Tingkat keberhasilan kita memahami hukum-hukum itu menjelma menjadi deretan pilihan atau alternatif, dan kita memilihnya yang terbaik (makna harfiah ikhtiar). Jadi takdir dan ikhtiar, sepanjang kitab suci, terkait erat dengan tuntutan bertindak secara ilmiah, demi efisiensi dan efektivitas.

Memakai cara pandang Nurcholish, bencana, seperti gempa yang mengguncang Yogya dan Jawa Tengah, bisa ditafsirkan sebagai takdir dalam pengertian gejala alam biasa, bukan takdir dalam pengertian kebanyakan masyarakat bahwa bencana adalah hukuman Tuhan terhadap manusia. *

*) Esai ini pernah dimuat pada rubrik Ide di Koran Tempo Minggu, 4 Juni 2006

Mei 22, 2007 - Posted by | Essay

5 Komentar »

  1. Bung Kelik, terimakasih atas kunjungan ke salah satu blog saya. Saya punya 5 blog, termasuk sebuah blog puisi (bsh.blog.com). Komentar Anda tentang salah satu blog saya sungguh keliru. Kelirunya: masa Anda belajar dari saya. Saya yang harus belajar dari Anda. Essay-essay Anda bagus. Saya harus banyak belajar dari essay Anda. Bisa minta nomor HP Anda?
    Salam
    BSH

    Komentar oleh Budiman S. Hartoyo | Juni 6, 2007 | Balas

  2. Mas salam kenal.. Saya benar-benar harus belajar banyak dari Anda.

    Komentar oleh Grahat | Agustus 21, 2007 | Balas

  3. walah, sampeyan ada blog juga toh, kang? tiga biji lagi. yang ini saya link-ya.

    Tanggapan:
    Lo, kok kamu nyasar ke sini. hehehe. Sugeng rawuh.

    Komentar oleh zen | Februari 5, 2008 | Balas

  4. asyik pak tulisan2nya,… salam kenal

    Komentar oleh wukirsuryadi | September 17, 2008 | Balas

  5. apa perbedaannya takdir dengan nasib?
    apakah kita tidak boleh meratapi diri………….?

    Komentar oleh siti nurul khotimah | November 6, 2008 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: