Pabrik Bunyi

Personal music. Critical essays.

Esai 7

Kimia Seks dan Spiritualitas

Kelik M. Nugroho *)

Ibarat mahasiswa, Indonesia sekarang sedang menghadapi ujian untuk menyusun Undang-undang Antipornografi dan Pornoaksi. Disebut ujian, karena inilah untuk pertama kalinya Indonesia membahas peraturan bersama dalam bentuk undang-undang menyangkut pornografi, hal yang selalu menimbulkan kontroversi di tengah masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam sejak kemerdekaan hingga kini.

Undang-undang ini bagi sebagian kalangan dianggap sangat diperlukan, namun bagi sebagian yang lain tak diperlukan, karena toh sudah ada KUHP yang telah mengaturnya. Namun belajar dari negara-negara di Amerika Serikat yang memiliki aturan tentang kecabulan, pengaturan pornografi melalui KUHP rasanya belum cukup. Apakah undang-undang yang akan dihasilkan DPR itu nantinya tepat untuk masyarakat Indonesia, di situlah letak ujiannya.

Ada berbagai aspek pemahaman tentang pornografi yang perlu disetel bareng sebelum memposisikan pornografi di tengah kehidupan bersama masyarakat di Indonesia. Pertama yang harus disadari bahwa masyarakat Indonesia yang berjumlah 240 juta orang versi CIA Fact Book ini sangat heterogen, baik dari sisi agama, suku dan budaya. Kedua, bahwa harus disadari bahwa Indonesia adalah negara Pancasila yang bukan berdasarkan ideologi agama tertentu. Ketiga, bahwa Indonesia yang menganut demokrasi harus mengakomodasi semua kepentingan masyarakat yang beragam secara adil.

Keempat, harus disepakati bahwa pornografi memang harus diatur sedemikian rupa agar tak “mencederai” generasi muda khususnya. Kelima, kalangan Islam harus memberikan cara pandang yang tepat tentang seksualitas, agar bisa memberikan sumbangan pengaturan pornografi dalam konteks masyarakat demokratis. Keenam, harus disepakati bahwa pornografi misalnya ketelanjangan tubuh akan menjadi masalah ketika masuk ke ranah publik, sementara di ranah privat apa yang disebut porno, bukan masalah yang mesti dirumuskan dalam undang-undang.

Pandangan tentang seksualitas, lebih khusus melalui cara pandang Islam, ini diperlukan untuk bisa memformulasikan pemahaman tentang seks secara manusiawi, sekaligus Islamis. Maklum, seksualitas yang berkembang di masyarakat kita, ditengarai sudah terlepas dari nilai-nilai Islam. Sementara kalangan arus utama Islam cenderung membatasi ekspresi seksualitas secara berlebihan.

Seks dalam pandangan Islam, menurut Prof. Nasaruddin Umar, ahli tafsir dari Universitas Islam Negeri Jakarta, merupakan fitrah manusia sebagai makhluk biologis. Tujuan seks yang harus disalurkan melalui lembaga pernikahan adalah untuk mencapai kesejahteraan lahir dan batin. Untuk hubungan seksual antara suami dan isteri, Islam membolehkan pengembangan seni bersenggama seperti yang tersurat dalam ayat 223 surah al-Baqarah. “Isteri-isteri kamu sekalian adalah tanah ladang, tanamilah tanah ladangmu sesuka hati, ” begitu kurang lebih terjemahan ayat tersebut.

Ajaran Islam menyangkut seks ini, masih menurut analisis Prof. Nasaruddin, paling sempurna dan komprehensif, dibandingkan ajaran dari agama-agama lain. Islam memandang seks sebagai bagian yang tak terpisahkan dari agama dengan beberapa alasan. Pertama, seks adalah bagian dari sarana ibadah bagi pasangan suami istri. Kedua, dengan seks beretika, Islam hendak memuliakan manusia dan membedakannya dengan hewan. Dan ketiga, seks dalam bingkai pernikahan adalah sarana mengarahkan nafsu manusia dan upaya melahirkan kenikmatan yang dihalalkan. Sementara agama-agama lain ada yang memandang seks sebagai sesuatu yang keji dan jorok, atau mengajarkan hidup selibat (tidak menikah), hal yang tentu melawan kodrat kemanusiaan.

Dalam Islam sendiri, wacana seni berhubungan badan bukannya tidak berkembang. Dr. Boyke Dian Nugraha, ginekolog yang laris menjadi pembicara tentang seksologi, menemukan buku erotologi dari khasanah Islam, yaitu The Perfumed Garden (versi Inggris) karya Shaikh Muhammad Nafzawi, filsuf asal Tunisia abad ke-16. Buku ini menurut Dr. Boyke mempengaruhi penulisan buku-buku seksologi yang ditulis sebagian penulis Barat. Dr. Boyke sendiri mengaku sering mengutip bagian dari buku ini dalam memberikan tips tentang seks bagi kliennya.

The Perfumed Garden menurut Geoffrey Simons Parrinder, guru besar studi perbandingan agama di King’s College London dalam buku Teologi Seks terjemahan penerbit LKIS Jogja, merupakan roman fantasi yang berisi pengajaran seks. Selain menjelaskan berbagai posisi hubungan badan, juga mengajarkan doa-doa, menceritakan kisah tentang pengkhianatan perempuan, membicarakan soal aborsi, impotensi dan lain-lain.

Fakta adanya literatur seksologi dalam khasanah Islam ini, Goeffrey menyebut judul sejumlah buku lain, menunjukkan bahwa di kalangan muslim pun pembahasan soal seks cukup terbuka. Kenyataan ini sekaligus menawar batasan-batasan tentang yang disebut porno dan bukan porno dalam Islam. Tapi barangkali karena isinya sangat eksplisit dalam menjelaskan teknik hubungan badan, buku ini tak diajarkan di pesantren. Masalah ini perlu penelitian lebih lanjut.

Seks sendiri sejatinya sakral. Seks jatuh menjadi pornografi, kata Otto Sukatno CR dalam buku Seks Para Pangeran, ketika simbol-simbol seksual dan ekspresinya direduksi dan disbordinasi oleh kepentingan-kepentingan lain di luar kepentingan seks itu sendiri. Sakralitas seks juga dinyatakan cendekiawan Komaruddin Hidayat. Dalam Islam, kata Komaruddin, pernikahan merupakan jalan reproduksi manusia. Hubungan seksual yang dengannya reproduksi manusia berkelanjutan merupakan bentuk partisipasi manusia dalam “proyek” Tuhan. Nilai spiritualitas dalam seks juga tersirat dalam peristiwa pernikahan yang oleh al-Quran disebut mitsaqan ghalidza atau perjanjian agung (dahsyat).

Lebih jauh berdasarkan temuan baru di bidang neurosains, seksualitas ternyata merupakan “pintu-pintu” menuju spritualitas. Demikian paling tidak menurut ahli neurosains Universitas Sam Ratulangi Dr. Taufiq Pasiak. Dia mengatakan bahwa riset-riset neurosains membuktikan bahwa kegiatan seksual dan penyatuan mistis (mystical union) melibatkan sirkuit yang sama dalam otak manusia. Struktur neurologis yang terlibat dalam pengalaman spiritual adalah juga struktur yang terlibat dalam pengalaman seksual.

Masuk akal jika kesamaan sirkuit sarafi yang dipakai ini mewujud juga dalam ekspresi bahasa yang relatif sama. Dengan sedikit perbedaan, penyatuan mistis lebih sering melibatkan aspek yang lebih tinggi, yakni kognisi manusia, di mana cortex prefrontalis, bagian otak yang hanya dimiliki mahluk manusia yang berkaitan dengan spiritualitas, memainkan peranan penting.

Dalam arti lain, karena seksualitas berkaitan dengan reaksi-reaksi kimiawi dalam otak yang berkaitan dengan spiritualitas, seharusnya manusia memakai seks secara bertanggungjawab sesuai buku manual yang diberikan Tuhan. Dalam konteks ini, pornografi yang mencederai jiwa anak-anak bisa dinilai sebagai kejahatan yang tak tepermanai. *

*) Opini jurnalistik ini editan ulang dari tulisan yang pernah dimuat di sebuah majalah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Juni 13, 2007 - Posted by | Essay

1 Komentar »

  1. Saya suka membaca artikel ini. Salam kenal dari Jogja. Ali Usman.

    Komentar oleh Aal | Desember 31, 2007 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: