Pabrik Bunyi

Personal music. Critical essays.

Wawancara 1

Wawancara dengan Andre Indrawan: *)

Komposer Muslim Secara Kuantitas Ketinggalan

Di peta musik dunia, jumlah dan karya komposer muslim secara kuantitas tertinggal jauh dibandingkan komposer non-muslim. Penyebab ketertinggalan itu antara lain kurangnya perhatian kalangan muslim terhadap musik, dan adanya faham kebanyakan ulama yang masih “menghindari” musik. Demikian antara lain dikatakan Drs. Andre Indrawan, M. Hum., M. Mus., L.Mus.A., 44 tahun, dosen di Jurusan Musik Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dalam wawancaranya dengan majalah Azzikra pada 7 Oktober 2005.

Lulusan ISI ini meraih gelar Master of Music di bidang teaching dan performance dari The University of Melbourne Australia pada 2000. Sebagai gitaris klasik, bapak kelahiran Bandung ini pernah meraih beberapa kualifikasi performance tertinggi di bidang gitar klasik dari Yamaha Music Foundation dan diploma Licentiate in Music (LMusA) dari Australian Music Examination Board pada 1997. Juara festival gitar Asia Tenggara pada 1978 ini juga menulis musik, khususnya dalam bidang transkripsi, aransemen dan pengeditan naskah musikal. Salah satu karyanya pernah ditampilkan di Australia pada 1999.

Kini Andre akan mengambil program S3 di UGM dengan proposal tesis tentang kajian etnomusikologis musik relijius Islamis di pesantren tradisional DIY. Bagaimana opini Andre tentang “musik Islam”? Berikut kutipan wawancaranya.

 


Adakah “musik Islam” menurut Anda?

Menurut saya musik Islam memang ada, walaupun istilah generik musik tidak akan kita jumpai dalam diskursus Islam maupun dalam bahasa Arab yang merupakan media komunikasi resmi di antara umat Islam. Islam tidak membahas musik secara spesifik. Al-Qur’an, sumber utama ajaran Islam, mengakomodasi pembahasan musik dalam kategori-kategori yang sangat umum, yaitu tentang keindahan. Dalam kenyataannya masyarakat Islam pada umumnya menggunakan musik dalam kegiatan-kegiatan sosial dan bahkan relijius. Namun kenyataan juga menunjukkan bahwa mereka tidak menyebut apa yang mereka lakukan dengan sebutan “musik”, melainkan dengan istilah-istilah teknis, misalnya kasidah, nasyid, qiroatul Qur’an, dan lain sebagainya.

Apa “musik Islam” menurut Anda?

Dalam pembahasan antropologi musik (the anthropology of music) atau kini dikenal dengan berbagai istilah lain seperti “antropologi musikal” (musical anthropology), “etnografi musik”, “etnomusikologi” dan lain sebagainya, kategori “musik Islam” memang sudah baku. Namun dalam kategori tersebut istilah “Islam” identik dengan “Arab”, sehingga jika kita memasukkan kata kunci “Islamic music”, “music+Islam” maupun “music in the world of Islam” (atau sebaliknya, jika kata “Islam” diganti dengan “Arab”) ke dalam jaringan komputer perpustakaan musik dunia, maka yang keluar adalah informasi tentang musik Arab atau Islam dalam konteks kebudayaan. Dengan demikian menurut saya secara umum, musik Islam adalah berbagai kegiatan musikal yang dilakukan oleh masyarakat Islam sebagai salah satu sarana dalam melakukan aktivitas-aktivitas sosial dan keagamaan mereka; jadi tidak semata-mata dakwah yang dikemas dalam gaya hiburan.

Apa esensi musik, bunyinya atau syairnya? Apa label “musik Islam” semestinya?

Tampaknya pertanyaan Anda dapat dipisahkan ke dalam dua hal yaitu tentang label musik Islam dan tentang esensi musik. Mengenai label musik Islam, saya tidak berani memutuskan, karena setiap pelaksana musik Islam tentunya memiliki pendapat yang berbeda dan kita harus saling menghargai. Sehubungan dengan itu keputusan tersebut mestinya relatif, tergantung dari definisi yang kita acu. Jika mengacu kepada definisi yang saya tawarkan, yaitu musik sebagai bagian dari kegiatan sosial, maka umumnya orang memahami musik Islam dengan label “musik relijius Islamis”. Namun jika kita mengacu kepada pengertian musik secara umum di luar pendapat masyarakat Islam, yang disejajarkan dengan corak-corak musik hiburan lain, maka tampaknya label yang lebih cocok ialah “musik Islamis” dan tampaknya orang juga akan berasumsi bahwa musik Islam tentu bersifat “relijius”. Jadi, dalam pelabelan musik Islam, sebutan Islam sebagai kata benda perlu diubah menjadi kata sifat, yaitu dengan akhiran “-is”.

Pada dasarnya esensi musik ialah bunyinya, sedangkan syair semata-mata pelengkap. Jika syair dianggap yang terpenting, dan syair tersebut dilagukan, maka syair tersebut dikatakan musikal namun statusnya tetap sebagai syair. Sementara itu musiknya kombinasi dari lagu dan syair. Dalam pembahasan hukum Islam, para ulama biasanya membedakan antara istilah “musik” dan “lagu”. Musik adalah yang keluar dari alat-alat musik (al maazif) sementara lagu adalah yang dinyanyikan oleh manusia (al-ghina). Hal tersebut berbeda dengan pengertian umum yang menyebutkan bahwa bunyi dari keduanya, yaitu alat musik sebagai pengiring dan suara manusia sebagai pembawa melodi, saling mengisi dalam mencapai suatu kesatuan yang disebut musik. Dalam dunia pendidikan musik (Barat), baik alat-alat musik seperti gitar, piano, misalnya, maupun suara manusia yang dilatih untuk menyanyi, disebut sebagai instrumen musik.

Apakah musik bisa dilabeli agama tertentu?

Tentu saja bisa. Misalnya lagu-lagu ibadah atau dakwah umat Kristen, disebut musik Kristiani atau dikenal dengan label “musik liturgi”. Oleh karena itu kalau ada yang setuju, lagu-lagu Qur’an yang digunakan oleh Imam dalam salat bisa saja dilabeli “musik liturgi Islamis”. Namun dari pengamatan saya, umumnya pelabelan tersebut didasarkan kira-kira 75% atas syairnya dan 25% atas gaya musiknya (corak irama, model melodi, alat musiknya, dan lain sebagainya). Untuk menunjukkan kekuasaan syair atas lagu, dapat diambil contoh, misalnya, salah satu lagu nasyid. Jika syairnya diganti dengan misi dakwah agama Hindu, maka mungkin orang akan mengatakannya musik “hinduis”. Atau misalnya lagu-lagu dakwah Islamis dalam bahasa Indonesia yang dikemas dalam gaya musik hiburan pop dengan iringan band (lagu-lagu lomba karaoke dalam Festival Anak Soleh, misalnya) adalah musik Islamis. Namun jika dinyanyikan di hadapan orang Arab yang serius beragama Islam, mereka akan mengatakan “haram…haram”, karena tidak paham bahasa Indonesia. Sebaliknya, jika syairnya dalam bahasa Arab (shalawat Nabi, misalnya), namun aransemennya dibuat dengan susunan koor, maka mungkin sebagian orang Islam tradisional akan mengatakan bahwa lagu tersebut mirip dengan koor gereja, sehingga bisa saja mereka mengharamkannya juga. Namun umumnya, jika musik dakwah yang Islamis dirancang dengan gaya yang ke-Arab-araban, maka masyarakat Islam umumnya lebih bisa menerima.

Apakah memang ada apa yang disebut “musik Islam” sebagaimana ada musik klasik, jazz dan pop?

Berdasarkan definisi yang saya tawarkan di atas, musik Islam memang ada. Setiap orang mempunyai pendapat yang berbeda tentang kategorisasi musik. Dalam hal ini saya membagi musik ke dalam tiga kategori, pertama musik hiburan; termasuk di dalamnya jazz dan pop. Kedua, musik tradisi yaitu musik etnik yang biasanya digunakan dalam tradisi; untuk yang Islamis, misalnya musik selawatan. Ketiga, musik “klasik” dalam pengertian sebagai musik serius/seriosa, yang merupakan lawan dari musik hiburan; termasuk dalam kategori ini musik-musik kontemporer. Contohnya karya-karya piano Trisuci Kamal.

Saya tidak mengangkat musik tradisi dalam menjawab masalah ini, karena keberadaan dan segmennya sudah jelas yaitu masyarakat pendukung tradisi yang bersangkutan. Berbeda dengan musik klasik dan hiburan yang keberadaan “Islamis”-nya muncul setelah disisipkan misi Islam, sehingga pendukungnya terbentuk kemudian. Jika kita menyimak perbedaan musik klasik dan hiburan, maka akan sangat menarik. Istilah klasik untuk musik yang saya maksud mungkin sudah tidak sesuai untuk saat ini. Namun, apapun namanya, musik tersebut memiliki sifat yang dinamis dan bebas sedangkan musik hiburan memiliki sifat yang statis.

Ketiga kategori tersebut bisa disebut Islamis jika berisi idiom-idiom keislaman. Untuk musik tradisi sudah jelas, seperti misalnya bentuk-bentuk musik qasidah dan selawatan yang berisi percampuran antara idiom-idiom Arab dan kebudayaan lokal. Untuk musik hiburan idiom-idiom tersebut tercermin pada syair-syair maupun corak iringan yang kearab-araban. Untuk musik klasik, karakter Islamis bisa tercermin pada idiom musikal, baik yang kearab-araban ataupun tidak, yang ditentukan oleh latar belakang ide penulisannya yang diperkuat oleh judul karya yang ditulis.

Jangan-jangan yang disebut “musik Islam”, ya hanya tradisi qiraah dan azan saja?

Memang bukan hanya “jangan-jangan”. Hal itu memang betul dan sesuai dengan definisi saya tentang musik Islam di awal pembicaraan kita. Sekali lagi perlu dicatat bahwa jika istilah yang didiskusikan bukan “musik Islam”, tapi “musik Islamis” maka pengertiannya bisa panjang lebar. Tergantung dari bagaimana kita mengartikan kata “Islamis”. Apakah yang dimaksud musik yang sesuai dengan ajaran Islam? Apakah musik yang diterima oleh seluruh masyarakat Islam? Apakah musik yang mengakomodasi ciri-ciri kebudayaan Islam (dalam hal ini termasuk idiom yang kearab-araban)? Apakah musik yang seusai dengan pengertian dan hakekat kata “Islam”?

Ambillah salah satu contoh, jika kita memahami istilah “Islamis” dari pengertian kata dan hakekat kata “Islam” yang berarti berserah diri atau tunduk dan patuh kepada hukum Allah (sunatullah), maka sesuatu yang Islamis tidak mesti berisi kata-kata Islamis secara langsung (vulgar). Kita bisa menilai Islamis atau tidak, langsung pada substansinya dan bukan melulu pada kesimpulan akhirnya.

Apa paramater seseorang untuk bisa disebut sebagai komposer muslim?

Komposer atau komponis adalah musisi yang bergerak di bidang penciptaan karya musik. Jika ia menganut keyakinan dan menjalankan Islam, maka ia komponis muslim, terlepas dari apakah karyanya “musik Islam (-is)” atau bukan. Kalau komponis muslim menulis karya untuk ibadah umat Kristen, maka ia tetap komponis muslim — namun hal ini tentunya sangat tidak diharapkan oleh sebagian besar umat Islam. Pada saat yang sama, ia pun akhirnya bisa dilabeli sebagai komponis Kristen karena menciptakan karya-karya untuk kepentingan Kristen. Demikian juga komponis yang menganut keyakinan agama lain, jika produknya musik-musik Islamis, maka bisa saja ia disebut sebagai “komponis musik Islamis”; dalam hal ini mohon dibedakan dari “komponis muslim”, karena muslim berarti penganut agama Islam.

Apakah komposer muslim tertinggal jauh dibandingkan dengan komposer non-muslim?

Saya kira secara kualitas tidak juga, tapi secara kuantitas memang jauh ketinggalan. Kenyataan ini menunjukkan bahwa perhatian umat Islam terhadap perkembangan musik pada umumnya sangat kurang. Walaupun demikian patut kita catat beberapa komponis Indonesia yang karya-karyanya telah dipublikasikan dan mendapat pengakuan internasional seperti misalnya Muhtar Embut, Trisuci Kamal, dan Slamet Abdul Sjukur.

Apa penyebab ketertinggalan komposer muslim?

Jika dikatakan bahwa komponis muslim tak semaju non-muslim, maka kemungkinan faktor penyebabnya ialah perhatian masyarakat muslim terhadap musik tidak sebesar masyarakat non-muslim. Hal ini jelas telah mempengaruhi jumlah muslim yang tertarik menggeluti bidang komposisi musik. Jumlah komponis muslim yang sedikit tersebut kemudian mempengaruhi keterbatasan interaksi dan komunikasi di antara mereka dan dengan sendirinya kreativitas Islamis mereka dalam komposisi. Lebih-lebih lagi interaksi dengan komponis non-muslim yang lebih intents telah mempengaruhi kurangnya niat mereka untuk menulis karya-karya musik yang Islamis.

Apakah komposer muslim terjerat oleh faham mayoritas ulama yang masih “menghindari” musik?

Boleh jadi demikian. Sebagaimana jawaban saya sebelum pertanyaan ini, kurangnya minat umat Islam terhadap musik yang mungkin salah satunya disebabkan oleh jeratan mayoritas ulama tersebut, telah mempengaruhi minat anggota masyarakat Islam untuk menjadi komponis, sehingga di samping komponis muslim yang sedikit tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh lingkungan non-muslim, dukungan yang kurang dari masyarakatnya sendiri bisa menyebabkan kurang loyalnya mereka terhadap Islam dan masyarakatnya, sehingga karya-karyanyapun cenderung tidak Islamis.

Apakah Anda termasuk musisi yang ikut terjerat paham tersebut?

Saya rasa tidak. Saya tidak menjumpai adanya pembahasan secara spesifik mengenai musik dalam sumber utama hukum Islam yaitu Al-Qur’an. Secara pribadi saya meyakini bahwa selama tidak ada bukti bahwa musik yang saya produksi membawa madhorot, melainkan sebaliknya malah memberi manfaat pada orang banyak, dan juga tidak mengganggu ibadah saya kepada Allah sebagai seorang muslim, maka tidak ada alasan bagi saya untuk berhenti bermusik.

Saya rasa salah satu sumber terjadinya kontroversi penghindaran musik dalam masyarakat Islam antara lain tidak adanya istilah generik tentang musik dalam bahasa Arab. Kata “musik” yang aslinya dari bahasa Yunani (bukan asli Arab) telah terlanjur memiliki konotasi negatif dalam masyarakat Islam. Sehubungan dengan itu saya tertarik dengan tawaran al-Faruqi sebagaimana dibahas dalam The Cultural Atlas of Islam (1986) untuk menggunakan istilah handasat al sawti (seni suara) sebagai alternatif dari istilah “musik”, jika umat Islam keberatan dengan istilah tersebut.

Dibandingkan dengan isu-isu hukum Islam yang lain, tampaknya isu musik termasuk yang sangat jarang dibahas. Walaupun demikian tampaknya bagi beberapa kelompok umat Islam, masalah halal-haram musik dianggap sangat penting, sementara bagi beberapa kelompok yang lain tidak begitu penting. Jika kita membuka buku-buku tentang syari’ah Islam secara umum, misalnya seperti Shari’ah: The Islamic Law (Doi, 1984), demikian pula dalam pembahasan dasar-dasar ilmu fiqh, misalnya Principles of Islamic Jurisprudence (Kamali, 1991), maka sama sekali tidak akan kita jumpai pembahasan tentang musik. Hal-hal yang banyak menyita perhatian umumnya ialah masalah hukum pernikahan, waris, kriminal, dan lain sebagainya. Demikian pula dalam buku-buku umum tentang Islam, misalnya Introduction to Islam (Hamidullah, 1970), masalah halal-haram musik tidak dibahas kecuali sangat sedikit dan tidak spesifik. Dalam sub pembahasan kontribusi umat Islam dalam bidang Sains dan Seni, musik hanya dibahas secara sangat singkat. Masalah halal-haram musik biasanya dibahas dalam kumpulan fatwa ulama. Pembahasan khusus tentang masalah itu, misalnya dalam “Islamic Rullings on Music and Singing” (Al-Kanadi, 1991) yang mentah-mentah mengharamkan musik. Walaupun demikian penghindaran terhadap musik tersebut banyak ditentang oleh ulama-ulama lain, misalnya Yusuf Qardawi. Dahulu masalah halal-haramnya musik hanya dibicarakan di kalangan ulama dan filsuf Islam dengan topik filsafat musik Islam abad pertengahan yang membahas bidang estetika bunyi (silahkan baca buku Philosophies of Music in Medieval Islam oleh Fadlou, 1995). Dalam diskusi tersebut terdapat berbagai aliran filsuf, termasuk kelompok yang mengharamkan musik. Walaupun demikian terminologi generik untuk musik pada saat itu juga masih diperdebatkan karena memang dalam bahasa Arab sendiri tidak ada (Lihat juga The Cultural Atlas of Islam oleh al Faruqi, 1986., dan Music in Islam oleh Choudhury, 1957).

Bagaimana cara membuat terobosan di bidang ini?

Mengenai terobosan, saya yakin setiap komponis muslim telah memiliki gagasan masing-masing dalam menghadapi pandangan-pandangan anti musik atau kontroversi mengenai musik dalam masyarakat Islam. Salah satunya saya kira dengan menyadari bahwa kontroversi tersebut bukan pada Islam, tapi pada masyarakat Islam, termasuk para ulama. Untuk menumbuhkan kesadaran tersebut, tampaknya para komponis muslim perlu berdiskusi dalam seminar-seminar dengan para ahli kebudayaan Islam dan ulama yang menaruh perhatian dalam pengembangan seni Islamis. Di samping itu dapat juga dengan berkarya bersama menampilkan karya-karya musik yang Islamis.

Sebetulnya, apakah musik meningkatkan kedalaman keberagamaan manusia?

Saya kira bukan hanya musik tapi juga seni pada umumnya. Suatu hal yang menyatukan semua cabang seni ialah keindahan yang dapat dirasakan dan dipikirkan oleh manusia. Ketajaman perasaan manusia dapat membantu seseorang dalam menghayati kedalaman agama. Untuk musik sangat jelas, karena dibandingkan dengan seni lain yang dapat dilihat berulang-ulang, wujud musik adalah yang paling abstrak. Ia hanya terdengar dan terasa sepanjang durasi masa putar karya tersebut. Pengalaman merasakan keindahan secara abstrak ini akan membantu pendalaman keyakinan akan adanya substansi-substansi gaib yang merupakan ciri ajaran agama manapun. *)

*) Versi asli dan lengkap dari wawancara yang sama yang pernah dimuat di majalah Azzikra edisi November 2005.

 

 

 

 

Juli 31, 2007 - Posted by | Interview

3 Komentar »

  1. subhanallah…..,saya kagum dengan hasil wawancara di atas.mungkin krena saya juga pencinta musik dan nyanyian terutama musik-musik islami.saya juga ingin mengembangkan musik islami(qasidah).

    Komentar oleh rahmawati | Desember 15, 2007 | Balas

  2. emang benar, fenomena umat Islam terjebak pada imej bahwa musik akrab dengan hiburan belaka yang bisa melalaikan. Padahal musik lebih dari sekedar hiburan.
    Ulama seharusnya bertanggungjawab atas ketertinggalan umat ini di bidang musik.
    InsyaAllah pencerahan tentang musik semakin gencar dilantunkan oleh para ilmuan & ulama musik.

    Komentar oleh Daud Utsman Ahmad Luqman | April 17, 2008 | Balas

  3. ups…wawancara yg luar biasa….mohon pencerahan selanjutnya..matur nuwun

    Komentar oleh sobaya musik etnik religi | Agustus 18, 2010 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: