Pabrik Bunyi

Personal music. Critical essays.

Esai 10

Jejak ‘Konspirasi Aquarian’

Gelombang baru pendekatan agama: mementingkan spiritualitas daripada ritus agama.

FALUN Gong adalah ujung gunung es perubahan negeri Tiongkok menjelang milenium ketiga. Perubahan itu khususnya menyangkut cara pandang masyarakat Cina terhadap agama dan makrokosmos. Kelompok meditasi yang dikembangkan Li Hongzhi, seperti kata ulasan beberapa media, dianggap mewakili cara pandang baru dalam beragama. Tak lagi terkungkung oleh ritus, mereka menyedot langsung sari pati (substansi) agama. Pendekatan semacam itu menjadikan Falun Gong tampak aneh di mata pemerintah Cina. Kelompok Li pun dianggap sesat dan meresahkan masyarakat.

Padahal, agama-agama yang diakui oleh pemerintah Cina sekarang-Buddha, taoisme, Islam, Protestan, dan Katolik-sedang menikmati suasana renaisans di bawah koridor politik yang dibuka lebar oleh Presiden Jiang Zemin. Kebebasan juga dihirup oleh berbagai bentuk pemujaan, dari yang biasa hingga yang aneh-aneh. Sekte-sekte Kristen dibiarkan hidup. Praktek klenik di mana-mana. Dan banyak dukun yang melakukan terapi kemandulan dengan mengundang kekuatan roh.

Falun Gong-yang beda dengan agama konservatif, klenik, dan sekte kultus-bisa jadi hanyalah bagian dari gelombang perubahan masyarakat bumi yang disebut oleh penulis Amerika Serikat Marilyn Ferguson sebagai “konspirasi aquarian”. Menurut redaktur jurnal Brain/Mind Bulletin itu, sejak 1960, banyak orang Amerika mengalami perubahan penting dalam cara pandang mereka terhadap alam dan berbagai aspek, antara lain sains, agama, pengobatan, hubungan antarmanusia, dan musik. Gelombang perubahan itu disebut oleh media sebagai “pemikiran zaman baru” (new age).

Istilah “konspirasi aquarian” terdengar bombastis. Namun sebutan itu bukan tanpa alasan. Konspirasi secara harfiah berarti “bernapas bersama”: sebuah keterkaitan yang erat. Sedangkan aquarian adalah khazanah istilah dalam zodiak kuno. Diartikan sebagai air, aquarian adalah simbol aliran air yang memenuhi dahaga zaman. Arti simbolis lain, aquarian adalah momentum manusia memasuki zaman penuh cinta dan cahaya, setelah sebelumnya mereka berada dalam kehidupan yang gelap dan penuh kekerasaan di bawah naungan bintang Pisces. Momentum perubahan itu, ya, milenium ketiga mendatang ini.

Gelombang perubahan yang paling kasatmata adalah temuan-temuan para ilmuwan dalam bidang sains, antara lain parapsikologi dan fisika quantum. Salah satu temuan yang penting adalah kesimpulan tentang kesejajaran antara temuan dalam bidang fisika dan gambaran kalangan mistikus kuno tentang alam. Fisikawan Fritjof Capra dalam buku The Tao of Physics membandingkan pandangan filsafat Timur tentang alam dengan cara pandang baru dalam bidang fisika. Pandangan baru ini menunjukkan akhir kesombongan sains modern, yang serba benda (materialistis), di depan kerendah-hatian filsafat Timur. “Kita berada pada momen sejarah yang sangat mengasyikkan, bisa jadi sebuah titik balik,” kata Ilya Prigogine, pemenang hadiah Nobel dalam bidang fisika tahun 1977, mengomentari perubahan paradigma itu.

Perubahan cara pandang pun terjadi dalam bidang agama. Gagal memahami bahasa dan simbol agama, manusia pun lebih mencari dunia makna-lewat spiritualitas ritus-ritus agama. Manusia pada era aquarian lebih tertarik pada nilai-nilai esoteris agama daripada ibadat yang bersifat permukaan. Gejala keagamaan baru ini didukung oleh riset yang memadai. The National Opinion Research Corporation (AS) pada 1975 melaporkan bahwa lebih dari 40 persen orang dewasa menyatakan, mereka yakin pernah merasakan pengalaman mistis. Pengalaman itu digambarkan mendatangkan kebahagiaan, ketenangan, kebutuhan untuk berbuat kebajikan untuk orang lain, keyakinan bahwa cinta merupakan pusat kehidupan, dan lain-lain.

Salah satu riset yang menjadi benang merah utama trend baru keberagamaan adalah ketidakpercayaan masyarakat pada lembaga agama. Majalah McCall’s tahun 1978 mempublikasikan sebuah survei terhadap 60.000 pembaca, yang menunjukkan bahwa mereka skeptis terhadap agama yang terorganisasi, bahkan terhadap para jemaat yang rajin datang ke gereja. Maksud agama yang terorganisasi adalah agama dalam pengertian baku, seperti Kristen dan Katolik. Alasan sikap skeptis itu, menurut 60 responden, “Kebanyakan gereja telah kehilangan sisi spiritual sejati dari agama.” Karena itu, kalangan new age memiliki semboyan “Spirituality, yes. Organized religion, no”. *

*) Tulisan Kelik M. Nugroho ini pernah dimuat di majalah TEMPO edisi 22 Agustus 1999 pada rubrik Selingan

November 9, 2007 - Posted by | Essay

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: