Pabrik Bunyi

Personal music. Critical essays.

Esai 11

Revolusi di Senja Peradaban Modern

Teknologi kloning muncul ketika paradigma sains mengalami transisi dari pandangan mekanis Descartes ke pandangan holistis.

Arthur C. Clarke, futurolog Sri Lanka, pernah meramalkan bahwa kloning pada manusia akan terwujud pada 2004. Entah mengapa ramalan Clarke ini meleset. Dunia memang berdebar-debar cemas akan dampak sosial-etis kloning pada manusia, dan puji Tuhan bahwa hingga tahun ini manusia kloning hanya muncul di film-film Holywood.

Teknologi kloning akan menimbulkan sejumlah masalah etis serius dan pertanyaan-pertanyaan yang subtil. Apakah orang otomatis memiliki hak paten atas cetak biru gen dirinya? Atau cetak biru itu milik publik? Soal hak paten atas cetak biru gen itu hanya salah satu dari berderet-deret persoalan seputar implikasi sosial dan filosofis teknologi kloning. Paling tidak menurut Eric Lander, Kepala The Whitehead-MIT Center for Genome Research, salah satu dari lima pusat The Human Genome Project, seperti ditulis majalah Time, ada beberapa soal pokok yang perlu direnungkan.

 

Tembok privasi seseorang bisa dijebol dengan teknologi ini, karena kemampuan membaca cetak biru gen bisa dipakai untuk mengetahui rahasia pribadi orang. Misalnya, seorang reporter menemui Ronald Reagan setelah pemilihan presiden 1984. Dalam pertemuan itu, si reporter mengambil serbet makan sang Presiden, menganalisis DNA-nya, dan memberitakan hasilnya: Presiden berisiko terkena penyakit Alzheimer. Atau bisa saja seseorang mengambil contoh darah Anda untuk mengetahui kesehatan fisik, tapi di belakang itu ia menganalisis DNA-nya untuk mengorek faktor risiko terhadap depresi.

Selain itu akan banyak orang yang suka menentukan secara serampangan identitas gennya untuk kepentingan pribadi. Taruh kata ada orang yang mengaku dirinya memiliki gen antikanker atau gen antidiabetes, tanpa melalui analisis DNA. Klaim-klaim semacam itu tidak berdasar. Sebab, bisa saja dua orang kembar memiliki gen yang identik, tapi yang satu bisa jadi rentan terhadap serangan diabetes, sedangkan yang satunya kebal. Jadi, harus diwaspadai kecenderungan orang untuk menjual gennya dengan determinasi tertentu tanpa melalui pembenaran secara sains.

Soal modifikasi gen juga mengancam. “Ini persoalan terbesar,” kata Eric. Apakah memodifikasi kode genetis sehingga orang bisa merancang struktur anaknya bisa dibenarkan? “Ada persoalan moral yang serius menyangkut ini semua,” kata Eric. Menurut dia, sekali orang melihat manusia sebagai produk pabrik, dia telah melanggar garis dan bisa jadi tidak akan mampu menarik surut langkahnya. Karena itu, masyarakat mestinya membuat aturan yang melarang modifikasi semacam. “Kita harus cukup bijak dan tepat menggunakan teknologi itu,” kata Eric.

Di luar persoalan yang dipaparkan Eric itu, ada pertanyaan yang lebih mendasar menyangkut implikasi filosofis dari proyek pemetaan genome manusia. Apa dampak filosofis terobosan bioteknologi itu? Apakah teknologi kloning sejajar dengan revolusi industri yang melahirkan peradaban modern? Atau lebih dahsyat? Akankah manusia sekarang mengulangi ongkos peradaban modern yang berekses negatif pada krisis ekologi dan kemanusiaan?

Revolusi industri di Inggris dan Prancis muncul dari setting masyarakat Eropa yang baru saja bangun dari zaman kegelapan. Revolusi industri itu terbukti menghasilkan peradaban modern, tapi bukan tanpa cacat. Keberhasilan ilmu pengetahuan dan sains modern yang bertumpu pada rasionalisme Descartes menghasilkan cara pandang yang reduksionis-menganggap alam semesta sebagai mesin. Filosofi manusia modern itu dituding sebagai biang krisis dalam berbagai dimensi intelektual, moral, spiritual, dan ekologi. Krisis yang hebat itu, seperti kata fisikawan Fritjof Capra dalam buku Titik Balik Peradaban, belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah umat manusia. “Untuk pertama kalinya kita dihadapkan pada ancaman yang nyata pada kepunahan ras manusia dan semua bentuk kehidupan di planet ini,” kata Capra.

Kini revolusi bioteknologi. Akankah manusia bumi terpeleset ke jurang krisis yang sama? Ruang dan waktu yang berbeda mestinya menyemaikan bibit peradaban yang berbeda. Teknologi kloning lahir ketika dunia mengalami masa transisi dari paradigma (cara pandang) modern ke paradigma baru — sebut saja pascamodern. Masa transisi itu ditandai dengan munculnya pemahaman saintifik baru terhadap kehidupan pada semua level sistemnya-organisme, sistem sosial, dan ekologi. Ada persepsi baru tentang realitas yang memiliki implikasi maknawi tak hanya untuk sains dan filsafat, juga untuk bisnis, politik, kesehatan, pendidikan, dan kehidupan sehari-hari. “Konsep baru dalam fisika telah membawa perubahan pandangan tentang semesta, dari pandangan mekanis Descartes dan Newton ke pandangan holistis dan ekologis,” kata Capra dalam buku The Web of Life.

Capra adalah doktor dalam bidang fisika lulusan Universitas Vienna yang menggetarkan dunia lewat buku-bukunya yang inspiratif. Salah satu karyanya, The Tao of Physics, berisi perbandingan antara fisafat Timur (taoisme, Hindu, dan Buddha), dengan temuan baru dalam fisika. Intinya, bahwa ada keparalelan antara filsafat Timur dan fisika baru. Contohnya, teori interkoneksitas dan interdependensi, yang sama dengan konsep avatamsaka Hindu.

Capra tak sendirian. Sejumlah seniman, ilmuwan, dan agamawan dunia melakukan gerakan sadar lingkungan melalui Kelompok Budapest. Anggotanya terdiri dari tokoh semacam Dalai Lama (pemimpin spiritual tertinggi Buddha Tibet), Peter Ustinov, dan Elie Wiesel. Selain melakukan aksi nyata dan aktivitas sosial untuk lingkungan, Kelompok Budapest pernah membuat manifesto tentang semangat kesadaran keplanetan, pada 1996. Organisasi itu bekerja sama dengan UNESCO, lembaga di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Artinya, dengan setting ruang dan waktu yang berbeda tersebut, apakah revolusi bioteknologi akan melahirkan “monster baru” bagi kemanusiaan? Kekhawatiran itu masih ada. Apalagi, mereka yang berada di belakang Human Genome Project adalah perusahaan bioteknologi. Pun keberhasilan proyek itu adalah berkat, salah satunya, topangan teknologi komputer, “bayi ajaib” sains modern. Jadi, apakah teknologi kloning akan dituntun oleh kaum ilmuwan holistis atau kaum yang bertangan jahat? Tunggu saja sejarah.

Memang. Kesuksesan Human Genome Project bisa dibaca sebagai bukti superioritas manusia atas “sebuah mesin bernama manusia”. Tapi terbacanya informasi genetis itu juga bisa diberi makna sebagai ditemukannya jejak kecerdasan Tuhan. *

*) Tulisan Kelik M. Nugroho ini pernah dimuat di majalah Tempo, 16 Juli 2000. Tulisan ini dimuat ulang di blog Pabrik Bunyi dengan beberapa revisi.

 

 

Desember 13, 2007 - Posted by | Essay | , , ,

5 Komentar »

  1. asik bacanya. aku suka. salam kenal.

    Komentar oleh aal | Januari 1, 2008 | Balas

  2. mas, saya boleh memasukkan blog ini ke link blog saya? Kalo boleh, saya mau izin.

    Tanggapan:
    Silakan. Terima kasih, malah.

    Pabrik Bunyi

    Komentar oleh aal | Januari 5, 2008 | Balas

  3. wew wez ewez ewez bablas angine !!!

    Komentar oleh nugroho | Februari 2, 2008 | Balas

  4. mas aku mau ikut di komunitas pnggmar PH bgmn caranya ? masalah nya aku punya banyak PH n tiap malam aku putar plat tsb… Trims yah mas.

    Komentar oleh Yanto | Agustus 27, 2010 | Balas

  5. tulisan yang sangat mencerahkan…kalau ssaja ini bissa jaadi trending topic..?..proficiat buat pak Kelik..

    Komentar oleh umbu pariangu | Juli 11, 2012 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: