Pabrik Bunyi

Personal music. Critical essays.

Taman Bacaan Koleksi Tokoh

Sumber: Koran Tempo Minggu, 24 Maret 2013, halaman A21, rubrik Ide

Taman Bacaan Koleksi Tokoh

Kelik M. Nugroho, penulis dan wartawan

Para tokoh berbagai bidang umumnya memiliki koleksi buku yang bermutu, terseleksi, penting, bersejarah, dan mungkin mahal. Namun sering kali, sepeninggal si tokoh, ahli warisnya tak mampu merawat koleksi itu, karena kendala ekonomi dan perbedaan minat serta kecintaan terhadap buku. Lebih buruk dari itu, koleksi si tokoh tak jarang dibuang ke tempat sampah, atau dijual ke pedagang barang bekas, atau rusak berat karena musibah kebakaran, kebanjiran, dan lain-lain. Padahal koleksi buku si tokoh sebetulnya aset penting dan mahal.

Banyak cerita mengenaskan mengenai nasib buku koleksi para tokoh ini. Contohnya, koleksi buku Ragil Suwarno Pragolapati, sastrawan Yogya seangkatan Emha Ainun Nadjib, yang hilang secara misterius di Pantai Parangtritis, Bantul, pada 1990-an. Selain dikenal sebagai sastrawan, dia dikenal sebagai dokumentator sastra yang gigih, tekun, dan berdedikasi. Isi dokumentasinya diperkirakan berjumlah ribuan dalam berbagai format, yaitu buku, buletin, majalah, lampiran, dan lain sebagainya.

Dulu, koleksi dokumentasi tersebut disimpan di rumah kontrakannya yang sederhana di Kampung Minggiran, Yogya. Setelah Ragil menghilang, istrinya harus menghidupi dua anaknya dan merawat buku warisan tersebut. Sampai tahun 2009, istri dan anaknya hidup di rumah kontrakan dan berpindah dari satu rumah ke rumah lain. Sedangkan nasib koleksi buku Ragil? Tak jelas.

Ternyata, nasib mengenaskan tak hanya menimpa tokoh lokal seperti Ragil. Bahkan nasib koleksi buku milik salah satu pendiri Republik Indonesia pun bernasib mirip. Lihat saja Perpustakaan Hatta di Jalan Solo, Yogyakarta, yang dikelola oleh Yayasan Hatta. Berdiri sejak 1950-an (waktu itu masih di Jalan Malioboro), perpustakaan yang kemudian berpindah ke Jalan Solo itu terpaksa ditutup pada 26 April 2007. Dikelola oleh swasta, perpustakaan ini sebetulnya pernah menerima tawaran bantuan dari Presiden Soeharto, namun tawaran itu ditolak karena alasan perbedaan paham. Lama-kelamaan, pihak pengelola perpustakaan tak mampu menggaji karyawannya.

Buku-buku koleksi tokoh, dengan segala keunikannya, sebetulnya sangat bernilai. Tak hanya bernilai sejarah, juga bernilai rupiah. Namun bukan soal harga rupiah yang tinggi itu–jika dilelang–yang menjadi perhatian di sini, melainkan nilai sejarahnya yang sebetulnya bisa memiliki berjuta makna bagi generasi muda Indonesia. Bayangkan, seorang mahasiswa fakultas ekonomi sekarang bisa membaca buku Pengantar Kedjalan Ekonomi Sosiologi karya Muhammad Hatta keluaran Penerbit Fasco, Jakarta, tahun 1957. Betapa pengalaman itu (mungkin) akan menghadirkan perasaan yang tak sekadar transformasi tekstual.

Buku-buku koleksi tokoh adalah aset. Untuk itu, ia harus dirawat, untuk kepentingan yang lebih bernilai. Pemerintah bisa turun tangan untuk ini. Salah satu jalan untuk mewujudkan gagasan itu adalah menciptakan varian baru TBM Koleksi Tokoh, taman bacaan masyarakat yang dikelola oleh keluarga si tokoh yang memperoleh dana stimulan dari pemerintah.

Taman Bacaan Masyarakat (TBM) merupakan program Direktorat Pembinaan Pendidikan Masyarakat Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal, dan Informal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Ada dua kategori TBM, yaitu TBM umum dan TBM komunitas khusus. Selama ini program TBM yang dikelola Direktorat Pembinaan Pendidikan Masyarakat secara umum berlangsung baik.

Dilaporkan, jumlah TBM di seluruh Indonesia ada 6.000 unit, walaupun laporan ini tak tercatat dalam data tertulis yang terstruktur. Sekitar 50 unit TBM memang telah diverifikasi keberadaannya dan masuk kategori TBM layak kunjung. Festival TBM yang diselenggarakan pada 2012 di Jakarta memperlihatkan gereget para pengelola TBM dalam menghidupkan program ini. Juga sejumlah TBM@Mall, varian baru TBM yang melayani pengunjung pusat belanja, masih mampu bertahan dan ikut mendukung sosialisasi TBM di masyarakat perkotaan.

Namun harus diakui bahwa sebetulnya ada beberapa kelemahan dalam pengembangan TBM. Pertama, menyangkut kualitas koleksi buku. Masih menjadi pertanyaan, bermutukah buku-buku yang tersedia di TBM? Atau adakah standardisasi buku-buku yang patut menjadi koleksi TBM? Kedua, menyangkut pengawasan penggunaan dana bantuan sosial (block grant) yang mengucur dari Direktorat Pembinaan Pendidikan Masyarakat. Apakah lembaga pengelola TBM yang mengajukan proposal dana benar-benar menggunakan dana sesuai dengan acuan? Apakah lembaga tersebut bonafide?

Nah, TBM Koleksi Tokoh, sebagai varian baru–mungkin bisa masuk kategori TBM Komunitas Khusus–diharapkan bisa mengatasi dua kelemahan yang disebutkan di atas. Dari sisi kualitas buku, TBM Koleksi Tokoh jelas memiliki koleksi buku yang bermutu, karena hasil koleksi seorang tokoh, dan secara umum merupakan buku lama yang memiliki nilai historis dan turistis. Dari sisi kelembagaan, karena TBM bertumpu pada si tokoh, diharapkan lembaga yang dibentuk lebih jelas identitasnya, dan tentu diharapkan mampu menjaga kepercayaan publik terhadap si tokoh.

Secara tidak langsung, TBM Koleksi Tokoh adalah penerjemahan dari konsep TBM Kreatif-Rekreatif–yang bertumpu pada koleksi buku si tokoh yang dinilai sebagai aset yang sangat bernilai untuk pendidikan masyarakat. TBM ini adalah gagasan cerdas untuk memanfaatkan koleksi buku seseorang, atau bahkan perpustakaan pribadi seseorang, dan sekaligus daya tarik si tokoh, untuk menghidupkan kegiatan taman bacaan masyarakat.

Konsep TBM Koleksi Tokoh ini berbeda dengan konsep perpustakaan pada umumnya, dan perpustakaan yang merupakan Unit Pelaksana Tugas Perpustakaan Nasional di bawah Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara pada khususnya. Perbedaan itu, antara lain: a) TBM Koleksi Tokoh bersifat memberikan insentif kepada si tokoh, atau ahli warisnya, jika si tokoh telah meninggal dunia; b) TBM Koleksi Tokoh mengutamakan buku koleksi si tokoh sebagai menu utama; c) TBM Koleksi Tokoh bersifat perpustakaan kecil yang intim untuk masyarakat; d) TBM Koleksi Tokoh berciri taman bacaan yang aktif dan proaktif membudayakan kegemaran membaca bagi masyarakat; e) TBM Koleksi Tokoh bersifat lokal.

Efek dari TBM Koleksi Tokoh niscaya majemuk. Antara lain, a) Mencitrakan bahwa pemerintah peduli pada tokoh masyarakat; b) Memberikan insentif kepada si tokoh, atau keluarganya, atas kecintaan mereka pada buku; c) Membukakan akses bagi publik ke koleksi buku si tokoh; d) Membuat daya tarik baru bagi program taman bacaan masyarakat; e) Memberikan alternatif wisata bagi masyarakat, yaitu wisata buku tua; f) Membuka kesempatan bagi tokoh masyarakat untuk berpartisipasi dalam membudayakan kegemaran membaca melalui taman bacaan masyarakat.

Banyak tokoh yang memiliki perpustakaan pribadi yang belum dioptimalkan manfaatnya untuk publik. Banyak tokoh yang ingin membuka perpustakaan pribadinya untuk bisa diakses publik, tetapi mereka tidak terlalu memahami mekanisme pengelolaan perpustakaan. Program TBM Koleksi Tokoh ini salah satu jalan keluarnya. *

Maret 26, 2013 - Posted by | Essay

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: