Pabrik Bunyi

Personal music. Critical essays.

Humor Politik

Humor Politik
Koran Tempo, Senin, 06 Januari 2014 | 03:22 WIB

Oleh Kelik M. Nugroho, @KelikMNugroho

 

Humor politik menemukan lahan baru untuk berkecambah di media sosial Twitter. Sebuah koran nasional berkomentar dalam rubrik Pojok, kurang-lebih begini: Mendagri berencana melantik Hambit Bintih (bupati terpilih) di rumah tahanan di Jakarta. Di media sosial, Mendagri disebut Menteri Dagelan RI. Humor ini dikutip dari media sosial-salah satunya Twitter.

Memang, Twitter adalah media digital yang canggih, yang memungkinkan orang mengekspresikan pendapat apa saja, termasuk humor politik, secara bebas dan berefek seluas jumlah pengikutnya, ditambah pengikut yang mengirim ulang kicauan. Twitter juga media komunikasi yang bersifat egaliter-siapa saja dengan ragam status sosial bisa saling berinteraksi. Sifat egaliter inilah yang menjadikan humor politik seperti menemukan panggungnya.

Contoh humor politik dari orang kebanyakan adalah kicauan orang berakun @yozeroo: Satu lagi produk asli indonesia » farhatabbaslaw :)) #HumorPolitik. Humor ini menyindir tingkah laku pengacara Farhat Abbas yang sering membuat sensasi. Contoh lain datang dari akun @canda¬tawacom: Partai SRI gagal lolos verifikasi, Srimulyani dikabarkan frustrasi dan berniat masuk Srimulat! #humorpolitik. Humor ini mencandai nasib partai yang mendukung mantan menteri Sri Mulyani.

Kita juga bisa menemukan humor-humor politik yang dilontarkan langsung oleh pejabat tinggi dan pesohor-fenomena baru berkat Twitter. Contoh kicauan komedian Butet Kartaredjasa via akun @masbutet: Yang paling menarik usulan Susilo Gandrik untuk koruptor, “dihukum gantung 5 tahun lamanya”. #mbathang.

Salah satu menteri yang aktif di jagat Twitter adalah Dahlan Iskan. Pola komunikasinya egaliter dan apa adanya, sehingga sering tampak melucu. Lihat saja kicauan via akun @iskan_dahlan ini: Asyiiiik, siapa lagi yang mau daftar jadi calo? Cepetan daftar hahaha. Kicauan ini menanggapi kicauan akun @TrioMacan2000: calo pemeras di BUMN itu antara lain:….

Humor politik yang saya contohkan tersebut merupakan sebagian dari kicauan yang berseliweran di linimasa akun Twitter saya sepanjang 2013. Berkat teknologi yang disediakan Twitter, saya mampu menyimpan kicauan yang berisi humor politik yang mampir di linimasa melalui menu Favorite-yang kebetulan saya baca di sela-sela kemacetan Jakarta, ketika nongkrong di kafe-kafe mal, atau ketika malam menjelang tidur. Sayangnya, belum banyak orang yang berkicau dengan tagar (tanda tematik) #HumorPolitik. Ketika saya mencari di jagad Twitter dengan tagar ini, hanya muncul 50 kicauan.

Humor politik, menurut saya, lebih bernilai daripada pesan-pesan politik yang langsung atau kadang bahkan disertai makian. Humor politik terasa lebih bergaya, berselera, dan cerdas dibanding pesan-pesan politik yang vulgar. Apalagi di Twitter tak ada sensor.

Dengan humor, kita dapat memberikan suatu wawasan yang arif sambil tampil menghibur. Humor dapat pula menyampaikan siratan menyindir atau suatu kritik bernuansa tawa. Humor juga dapat menjadi sarana persuasi untuk mempermudah masuknya informasi atau pesan yang ingin disampaikan sebagai sesuatu yang serius dan formal (Dick Gauter via Didiek Rahmanadji). *

 

April 23, 2014 - Posted by | Essay |

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: